foto

TEMPO/Arif Fadillah



Angkutan Peti Kemas Menjadi Pilihan Siasati Cuaca Buruk  

TEMPO Interaktif, Mataram - Untuk menyiasati kendala transportasi darat menggunakan truk via Bali, pengusaha barang kebutuhan pokok rumah tangga sehari-hari dan bahan bangunan dari Tanjung Perak Surabaya, sejak sebulan terakhir memakai peti kemas yang diangkut kapal barang langsung ke Pelabuhan Lembar di Lombok Barat.

Antisipasi pasokan tersebut dilakukan karena tidak jarang lintasan kapal feri Lembar – Lombok Barat – Padang Bai Bali di Selat Lombok dan seterusnya Gilimanuk Bali – Banyuwangi Jawa Timur di Selat Bali ditutup akibat cuaca buruk. "Ternyata lancar dan biayanya lebih murah," ujar Kepala Seksi Angkutan Laut Dinas Perhubungan dan Komunikasi Informasi Nusa Tenggara Barat M Sukardi sewaktu menjelaskan kepada Wakil Gubernur NTB Badrul Munir, Selasa (2/2).

Menurut Sukardi, angkutan peti kemas tersebut ditargetkan setiap bulannya mencapai 400-an. Sejak akhir Desember 2009 hingga Januari 2010, dari Surabaya sudah ada 481 peti kemas yang datang berisi barang kebutuhan penduduk NTB. Setiap peti kemas mampu memuat isi 1,5 truk. "Tetapi belum ada barang keluar Lombok dipetikemaskan," katanya.

Sebanyak 258 peti kemas diangkut dari Pelabuhan Lembar dalam keadaan kosong. Untuk meningkatkan angkuta barang menggunakan peti kemas tersebut, Dinas Perhubungan dan Komunikasi Informasi NTB bekerja sama dengan PT Pelindo III menyiapkan sosialisasi, dan peluncuran perdananya.

Wagub NTB Badrul Munir meminta segera dilakukan penyebarluasan informasi angkutan peti kemas tersebut sebab kendala cuaca dapat menghambat pasokan barang makanan dan bahan bangunan. "Jangan memikirkan launching, langsung saja disebarluaskan pemberitahuannya," ucapnya.

Kepala Cabang PT ASDP Lembar – Padangbai mengemukakan kepada Tempo, bahwa setiap harinya masing-masing pelabuhan penyeberangan melayani 200-300 truk besar dan truk sedang. Yang datang dan pergi membawa barang segitu banyaknya,’’ ujarnya sewaktu dikonfirmasiRabu (3/2) pagi. Sebenarnya kapasitas yang terisi truk besar dan sedang dilintasan tersebut baru mencapai 70-80 persen. ‘’Masih longgar, ‘’ katanya. Disebutnya, ada 19 kapal feri di lintasan tersebut yang keberangkatannya setiap jam.

SUPRIYANTHO KHAFID