Topik
Suhu Politik Kabupaten Mojokerto Mulai Memanas
TEMPO Interaktif, Mojokerto - Menjelang pemilihan bupati, suhu politik di Kabupaten Mojokerto mulai memanas. Rabu sore tadi (3/2), ratusan pendukung Musthofa, salah satu bakal calon bupati nekat meluruk kantor Bupati Mojokerto, Suwandi, yang dalam pemilihan nanti akan kembali ikut bertarung.
Massa yang berjumlah ratusan orang itu menuntut pertanggungjawaban bupati dan Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) kabupaten itu, Tri Mulyanto.
Mereka menilai Tri telah lancang menurunkan beberapa spanduk dan baliho milik Musthofa di beberapa titik. "Ini pelanggaran hukum. Stribut kami itu berada di pekarangan rumah, bukan di fasilitas umum dan fasilitas sosial," kata Didik Hendro, Ketua Tim Sukses Musthofa.
Menurut dia, ada 20 titik lebih spanduk dan baliho Musthofa diberedel Satpol. Ia menilai Satpol PP tebang pilih. Sebab, spanduk milik Suwandi, calon incumbent, juga berterbaran dimana-mana, termasuk di kantor-kantor dinas. "Milik incumbent kenapa dibiarkan?" ujarnya.
Menanggapi tudingan itu, Tri menjelaskan, selama ini penurunan baliho dan spanduk sudah sesuai Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2008, tentang penataan reklame. “Baliho dan spanduk diturunkan karena menyalahi aturan, beberapa diantaranya tanpa izin,” kata dia.
Dia menepis Satpol PP tebang pilih. Kata dia, baliho dan spanduk milik siapapun kalau terbukti melanggar akan ditertibkan, termasuk milik pasangan incumbent. "Semua kami berlakukan sama," katanya.
M. TAUFIK