Pembuatan Shelter Korban Gempa Sumatera Barat Selesai

TEMPO Interaktif, Padang — Aksi Tanggap Cepat (ACT) Foundation menuntaskan pembuatan shelter atau hunian terpadu untuk korban gempa Sumatera Barat di tiga lokasi di Kabupaten Pariaman dan Agam.

Ketiga unit shelter itu telah dibangun di Ambung Kapur untuk 121 keluarga, Tandikek untuk 50 kepala keluarga, dan di Maninjua untuk 175 keluarga.

Vice Presiden ACT Foundation Sigit Iko Sugondo mengatakan, ketiga hunian terpadu itu kini telah ditempati korban gempa. “Di Maninjau Agam sebenarnya baru akan diresmikan minggu depan, tetapi mereka butuh sekali dan kini sudah ditempati masyarakat, yang menempati adalah keluarga yang benar-benar membutuhkan seperti orang tua jompo, yang sakit parah atau keluarga yang punya banyak anak kecil,” kata Sigit Iko Sugondo, Jumat, (5/2).

Ia mengatakan, hunian terpadu itu diberi sekat per keluarga dan dilengkapi dengan dapur umum, sarana air bersih, wc, kamar mandi, sekolah, mushola, perpustakaan dan tempat bermain agar kegiatan rutin masyarakat pulih kembali.

“Ini sifatnya temporer, jadi paling lama dua tahun, nanti dirobohkan lagi, kita berharap pemerintah segera membangun rumah yang permanent untuk korban gempa.
Selain membangun shelter, ACT juga sedang membangun beberapa sekolah dan masjid yang rusak karena gempa dan juga membuka balai latihan kerja untuk masyarakat beserta modal kerja.

“Total bantuan yang kita alokasikan di Sumatera Barat sekitar Rp 40 miliar, belanja barang-barang bantuan sejak dulu juga dibeli di Sumatera Barat seperti makanan, bahan bangunan, ini agar perekonomian di Sumatera Barat bergerak,” kata Sigit.

Di Shelter Ambung Kapur, kabupaten Padang Pariaman dihuni 435 jiwa yang rata-rata rumahnya hancur karena gempa. Effendi, 59 tahun, salah seorang penghuni shelter di Ambung Kapur mengatakan, tinggal di shelter yang disekat triplek dengan tetangganya cukup menyenangkan karena ia bisa lebih akrab antar penghuni shelter lainnya yang sama-sama kehilangan rumah.

Namun ia khawatir bila penampungan sementara ini berakhir, padahal rumahnya belum dibangun. "Belum jelas kapan rumah kami dibantu pembangunannya oleh pemerintah, sementara penampungan ACT Foundation hanya untuk setahun, kami khawatir akan kehilangan tempat berteduh," kata Effendi.

Vice Presiden ACT Foundation Sigit Iko Sugondo mengatakan keberadaan shelter akan diperpanjang selama dibutuhkan hingga bantuan pemerintah selesai membangun rumah masyarakat.

“Kita akan dorong pemerintah agar lebih cepat, kan kasihan masyarakat kalau berlama-lama tinggal di penampungan sementara,” kata Sigit Iko Sugondo.

 

Febrianti