Topik
Pemerintah Siapkan Insentif Riset Rp 100 Miliar
TEMPO Interaktif, Bandung — Kementerian Riset dan Teknologi menyiapkan Rp 100 miliar tahun ini untuk insentif peneliti. “Berbagai peneliti, bukan hanya di Kementerian Ristek, termasuk di perguruan tinggi, Litbang, dan kementerian teknis,” kata Menteri Negara Riset dan Teknologi Suharna Surapranata di Institut Teknologi Bandung, Minggu (7/2).
Suharana mengatakan, stimulus di bidang penelitian dengan pemberian insentif itu ditujukan untuk pengembangan teknologi. Sementara implementasinya, diserahkan pada industri.
Penelitiannya dibatasi pada tujuh bidang di antaranya energi, pangan, pertahanan, serta transportasi. Pendistribusian dana stimulus itu, lanjut Suharna, hampir merata di masing-masing bidang tersebut.
Tema riset yang ditawarkan mendapat stimulus itu diumumkan terbuka lewat situs Kementerian Ristek. Suharna mencontohkan, riset roket yang tahun ini mendapatkan stimulus itu. “Tak banyak (dananya) sekitar Rp 2 miliar program itu, lainnya saya tidak hapal,” katanya.
Direktur Utama PT Pindad Adik Avianto Soedarsono mengatakan, program pengembangan alat utama sistem persenjataan (Alutsista) termasuk yang paling besar memperoleh stimulus ini. “Pindad (mendapat) yang terbesar dari program insentif ini,” ungkapnya.
Proposal riset pengembangan Alutsista itu mensyaratkan adanya mitra industri yang bakal mengerjakan prototipe program itu. “Karena di Alutsista, balik lagi ke Pindad, nah itu yang saya bilang belum saya jumlah,” kata Adik.
Adik menyebutkan, ada sekitar 10 proposal riset Alutsista yang mendapatkan insentif riset Kementerian Ristek yang dikerjakan bersama Pindad. Di antaranya riset subsitusi komponen panser yang diproduksi Pindad.
Dia mencontohkan, komponen Electronic Control Unit (ECU) pada panser produksi Pindad. Komponen untuk mengatur secara otomatis performance mesin buatan Perancis itu menjadi salah satu yang tengah dikembangkan untuk mensubstitusinya.
Program stimulus riset ini membantu perusahaannya untuk mengembangkan teknologi. Dia mencontohkan, riset pengembangan teknologi persenjataan tidak bisa dibiayai oleh Departemen Pertahanan.
Riset Kementerian tersebut membantu perusahaannya untuk penguasaan teknologi sebelum siap ditawarkan pada Departemen Pertahanan untuk digunakan. “Kadang dunia Litbang kita terlalu percaya diri, dia sudah bilang mampu padahal masih banyak yang belum terjawab,” katanya.
Selain program insentif untuk peneliti itu, Kementerian Ristek juga tengah menyusun paket program yang ditujukan membangun kreativitas dan inovasi di kalangan pemuda. Programnya sendiri masih dirumuskan. Suharna mengatakan, bantuan yang diberikan tidak sebatas teknologi tapi juga pendanaannya.
Suharana menambahkan, pihaknya lewat Badan Standar Nasional juga tengah menyiapkan standar teknis untuk menjadi patokan barang masuk ke Indonesia.
Ahmad Fikri