Pengamat Imbau Investor Saham Tak Gundah  

TEMPO Interaktif, Jakarta - Kepala Ekonom Danareksa Research Institute Yudhi Sadewa, melihat penurunan indeks harga Saham babungan (IHSG) sebesar 3,51 persen dalam perdagangan sepekan lalu merupakan hal normal dalam pasar saham. Investor tidak perlu khawatir dengan sifat pasar saham yang naik turun tersebut.

Saham Hal itu dikatakan Yudhi saat dihubungi Tempo, Ahad (7/2). “Ini hanya gangguan jangka pendek, investor tidak usah khawatir,” ujar Yudhi. Ia pun melihat bahwa dalam satu atau dua pekan ke depan, indeks harga saham akan bisa kembali ke keadaan normal.

Ia optimistis, indeks akan pulih setelah melihat kondisi ekonomi Indonesia yang mulai melakukan ekspansi ke luar. “Pada akhirnya akan ditentukan oleh keadaan ekonomi. Mulai banyaknya ekspansi ekonomi kita keluar, saya liat perkembangan akan lebih cepat dari yang kemarin-kemarin,” tutur Yudhi lagi.

Akumulasi sentimen negatif dari faktor global membuat investor asing melepas portofolio sahamnya dengan nilai penjualan bersih Rp 994 miliar Jumat lalu, sehingga indeks terkapar mendekati level 2.500. Alhasil, dalam sepekan indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Indonesia terjun 91,82 poin atau 3,52 persen ke level 2.518,976 dari posisi pekan sebelumnya di 2.610,796.

Analis Danareksa ini melihat, anjloknya indeks harga saham disebabkan dua hal, yaitu gangguan pasar global di Amerika Serikat dan Eropa, serta posisi cari aman yang dipilih para investor. “Pasar modal Indonesia ini ikut (kondisi) luar. Ketika dolar menguat, mereka ramai-ramai kembali ke dollar,” ucap Yudhi.

Hal senada juga disampaikan oleh Erwan Teguh, Head of Research CIMB Securities Indonesia saat dihubungi Tempo. Ia mengatakan, apa yang terjadi terhadap indeks harag saham pada pekan lalu bukan hal yang mengejutkan. “Ini siklus biasa,” tutur Erwan.

Ia menilai, yang menimpa indeks lokal juga dirasakan pihak luar, dan tidak hanya terjadi di Indonesia. Indonesia pun dinilai tidak punya pegangan spesifik sehingga ketika terjadi sesuatu di luar negeri, efeknya akan bisa langsung terasa ke Indonesia. Dampak ini kemudian terasa sangat signifikan karena pada Januari, indeks tengah dalam kondisi terbaik.

Ketika ditanya bagaimana keadaan indeks harga saham dalam pekan depan, ia menilai perdagangan akan berlangsung sepi seiring perayaan Imlek. “Investor yang ada di Indonesia berasal dari Singapura, Hong Kong, atau Cina. Jadi mereka akan dipengaruhi oleh Imlek,” ucap Erwan lagi.

ARIE FIRDAUS