Krakatau Steel Tawarkan Saham Perdana November Ini

TEMPO Interaktif, Jakarta - Perusahaan baja negara, PT Krakatau Steel, akan menggelar penawaran saham perdana kepada publik (IPO) pada November 2010. Sebelumnya Kementerian Badan Usaha Milik Negara menjadwalkan IPO Krakatau pada triwulan kedua setelah IPO PT Garuda Indonesia.

"Kami akan menggunakan laporan keuangan 31 Juli 2010 di Bursa Efek Indonesia," ujar Direktur Utama Krakatau Steel Fazwar Bujang dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi Badan Usaha Milik Negara di gedung Dewan Perwakilan Rakyat, Jakarta, Senin (8/2).

Perusahaan akan melepas maksimum 30 persen saham secara bertahap. Izi Dewan telah dikantongi sejak 16 September 2009. Selain saham pemerintah, persero juga akan menawarkan saham manajemen dan karyawan. "Hasil IPO digunakan untuk menutupi kebutuhan belanja modal guna mengembangkan perusahaan," tutur dia.

Fazwar juga menjelaskan ancaman akibat pasar bebas ASEAN- Cina pada industri baja nasional. Guna mengantisipasi ancaman, persero akan melakukan upaya internal dan berharap pemerintah juga ikut membantu. "Krakatau Steel akan melakukan penetrasi ke pasar ASEAN secara agresif karena kandungan lokal yang tinggi," ujar Fazwar.

Perseroan pun akan memperbaiki waktu pengantaran produk ke konsumen dengan membangun stok cadangan dan melakukan program cash and carry, penjualan langsung, dan penjualan ke proyek. Di sisi lain persero berharap pemerintah melakukan langkah antisipasi seperti antidumping, safeguard, dan antisubsidi secara agresif. Pemerintah harus memperjuangkan 114 pos tarif untuk dinegosiasikan kembali.

Krakatau mengusulkan agar pemerintah menerapkan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2009 secara konsekuen dan termonitor dengan efektif. "Inpres diupayakan masuk dalam revisi undang-undang industri," ucap Fazwar.

Untuk mengatasi 95 persen produk baja yang belum memiliki Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib, Krakatau meminta pemerintah mengakselerasi program SNI di sektor baja hulu dan jilir. Pemerintah juga harus terlibat aktif dalam penyusunan rancangan undang-undang perdagangan yang melindungi produsen industri dalam negeri.

Dalam periode 2005-2008, Krakatau Steel mencatat peningkatan pendapatan dari Rp 11,6 triliun menjadi Rp 20,6 triliun. Krisis global menyebabkan pendapatan 2009 turun menjadi Rp 16,3 triliun. Sementara keuntungan bersih meningkat dari Rp 460 miliar di 2008 menjadi Rp 491 miliar prognosa di 2009. Prediksi total aset tahun lalu sebesar Rp 12,64 triliun, turun dari jumlah tahun sebelumnya Rp 15,37 triliun.

RIEKA RAHADIANA | SORTA TOBING