foto

Seto Mulyadi. TEMPO/Arnold Simanjuntak



Kekerasan Anak, Akibat Buruknya Komunikasi dengan Orang Tua  

TEMPO Interaktif, Jakarta - Penganiayaan yang dilakukan Budi, bukan nama sebenarnya, siswa kelas tiga SD Negeri 12 Cipinang, Jakarta Timur, kepada lima temannya dinilai akibat dari komunikasi yang kurang antara anak dan orang bapak.Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Seto Mulyadi mengatakan orang tua harus melakukan komunikasi efektif kepada anaknya.

“Jangan sampai anak takut kepada orang tuanya. Kalau anak tidak bisa curhat kepada orang tuanya akan memberikan rasa frustasi,” kata Kak Seto ketika dihubungi Tempo Selasa (9/2).

Komunikasi yang buruk akan memberikan tekanan psikologis kepda anak. Seorang anak usia SD, menurut Kak Seto, membutuhkan perhatian ekstra dari orang tua. “Kecerdasan emosi anak sangat labil. Ketika dia merasa terkekan apa saja bisa masuk dalam dirinya seperti kekerasan, narkoba, bahkan seks bebas,” katanya.

Budi diduga menyekap, menyiksa dan menganiyaya teman sekolahnya. Pelaku sering memukuli teman sekelasnya, bahkan membenturkan kepala temannya ke tembok.

Dalam kasus seperti itu, Seto menyarankan orang tua dan pihak sekolah bersatu dalam menghadapai kasus seperti ini. “Ini bukan sekedar masalah pribadi si pelaku. Dalam hal ini pelaku juga korban kekekrasan,” kata pria yang mempopulerkan boneka Komo itu.

Kasus kekerasan anak SD sudah terjadi sekitar lima atau enam tahun lalu. Namun baru kasus Budi yang mencuat di media. Sebenarnya kalau mau ditelusuri, di daerah-daerah kasus seperti Budi sudah marak.

“Sebetulnya sindikat-sindikat atau premanisme yang mengarah pada anak SD sudah sejak lama. Sekarang modusnya macam-macam bisa dengan paksaan, teror, obat terlarang atau uang. Inilah tugas polisi untuk mengusutnya,” katanya.

Supaya kekerasan seperti yang Budi lakukan tidak terulang lagi, Sebaiknya seorang anak diberikan kesibukan tambahan usai sekolah. Bisa dengan ekstrakulikuler atau kursus seni seperti pencak silat, karate, yudo atau bermusik. “Seorang anak juga harus akrab dengan guru. Sekolah tidak hanya memberikan pendidikan secara kognitif tapi juga kecerdasan sosial,” kata Kak Seto.

DANANG WIBOWO