Pengasong Di Borobudur Akan Dikurangi

TEMPO Interaktif, Jakarta -PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, Ratu Boko (TWC), bekerjasama dengan UKM Center Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia akan menata keberadaan pedagang asongan di kawasan sekitar Candi Borobudur. Direktur Eksekutif UKM Center Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Nining I. Soesilo, mengatakan akan mengurangi jumlah pedagang asongan dengan memberikan alternatif usaha bagi mereka.

Menurut Nining, saat ini secara resmi ada 3.500 lapak pengasong yang datang dari 20 desa sekitar. “Jumlah ini meningkat hingga dua kali lipatnya pada saat musim libur,” kata Nining dalam penandatangan Nota Kesepakatan dengan Departemen Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia dan UKM Center Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia di The Polo Club, Jakarta, Selasa (9/2).

Ada dua cara yang akan digunakan untuk menata para pedagang asongan ini. Yang pertama adalah membuat kios di seputaran lahan parker, zona yang memang berada di bawah manajemen TWC. Cara kedua adalah membangun 20 desa wisata di sekitar kawasan Candi Borobudur. “Saat ini Kementerian Budaya dan Pariwisata sudah mengembangkan tujuh desa wisata.”

Untuk permodalan, TWC dan UKM Center akan bekerja sama dengan beberapa bank dan lembaga Pembina untuk menyalurkan kredit berbunga rendah bagi Usaha Kecil dan Menengah, di antaranya Bank Mandiri dan Jogja Ventura. “Selain itu bagi wirausaha yang berhasil juga mendapat insentif dan penghargaan,” kata Nining.

Program yang ditawarkan dalam desa wisata ini adalah tur keliling desa naik andong ke pabrik tahu tradisional, pabrik bihun, pabrik kolang-kaling, serta pabrik aksesori yang terbuat dari kaleng bekas dan bambu. Selain itu, juga ada pembelajaran bagi wisatawan mengenai pertanian dan peternakan tradisional. “Dengan Rp 100-150 ribu, sudah mendapat fasilitas penginapan, sarapan dan diakomodasi untuk tur desa naik andong.”

Selama ini, masyarakat sekitar Borobudur kurang menerima efek ekonomi dari status candi tersebut sebagai destinasi wisata. Penciptaan desa wisata diharapkan akan meningkatkan jumlah wirausaha dengan keberadaan penginapan rakyat dan berbagai jenis usaha lainnya.

Penginapan milik rakyat sebenarnya sudah ada di sekitar Candi Borobudur, tetapi sebagian besar hanya menerima di musim libur. “Hanya Lotus yang dipromosikan melalui buku Lonely Planet,” tambah Nining. Lonely Planet merupakan buku yang dijadikan acuan para wisatawan.

Permasalahan pedagang asongan menjadi salah satu dari tiga hal yang diperingatkan UNESCO terkait dengan status Warisan Budaya Dunia. “Rata-rata pengunjung hanya menghabiskan dua jam di Candi Borodur. Tapi yang setengah jam karena dikejar-kejar pedagang asongan,” gurau Nining dalam penandatangan nota kesepahaman TWC dengan UKM Center UI di Menara Batavia, Jakarta, Selasa (9/2).

Penataan ini terkait akan diverifikasinya Borobudur oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia, pada Juli 2010 mendatang. Pada tanggal 13 Desember 2011, Candi Borobudur akan merayakan 20 tahun penetapannya sebagai Warisan Budaya Dunia.

ARYANI KRISTANTI