Dok. Panitia/Daniel
Topik
Semarak Gaya Imlek
TEMPO Interaktif, Wajah Lucy, seorang remaja putri, bersama kedua orang tuanya takjub melihat panggung besar. Panggung berbentuk bangunan klasik Cina itu didominasi warna merah dengan lampu-lampu menyiramkan cahaya kuning cerah.
Di panggung berukuran sekitar 25 x10 meter persegi di Main Atrium Mal Taman Anggrek (MTA), Jakarta Barat, Jumat malam pekan lalu, berlangsung drama satu babak kisah keluarga seorang kaisar Cina yang sibuk mencarikan suami buat putrinya.
Singkatnya, Lucy serta 300-an orang di antara pengunjung mal menikmati acara yang berdurasi 90 menit itu, meliputi drama, nyanyi, dan kuis menyambut Imlek 2561.
"I Love Imlek" tersebut merupakan roadshow para koko-cici Jakarta yang tergabung dalam Ikatan Koko-Cici (Ikoci) memperingati Imlek dan Valentin sekaligus. Setelah MTA, mereka ke Mal La Piazza, Kelapa Gading (12 Februari), lalu Mal Pluit Village dan Central Park (13 Februari). Khusus di Central Park, para koko dan cici menampilkan drama besar White Snake Legend (Pai Su Cen) dengan koreografer Eddy Ongko.
Nah, karena berbentuk fashion drama, para pelakon yang merupakan alumnus acara Koko-Cici Jakarta berbusana klasik Cina. Tanpa dialog dan hanya diisi narasi, mereka tampil apa adanya dan menonjolkan busana yang semuanya dipasok oleh I Studio, Jakarta.
Baju cheongsam klasik atau baju berpotongan jubah, gaun panjang, serta baju dengan lengan panjang melebar dihadirkan. Tak melulu merah dan kuning emas, ada pula warna ungu atau biru.
"Dengan roadshow ke beberapa mal, tahun ini harapannya masyarakat Tionghoa lebih membaur. Bahwa kebudayaan Tionghoa sebagai salah satu daya tarik pariwisata di Indonesia," ujar Julius Wijaya, Wakil Ketua Ikoci. "Pemilihan gaya busana disesuaikan dengan karakter tokoh-tokohnya, tapi ada pertimbangan tradisi dan sisi modern."
Gaya busana dari negeri Tiongkok memang kian diminati. Dan cheongsam menjadi daya tarik tersendiri serta mampu divisualkan dengan berbagai gaya yang berbeda. Kebanyakan orang dewasa lebih memilih cheongsam panjang. Adapun remaja lebih suka model sackdress. Sebelumnya, cheongsam identik dengan warna merah, yang melambangkan kemeriahan dan kebahagiaan.
Kini cheongsam modern memiliki banyak pilihan warna. Motifnya pun semakin banyak, mulai motif kembang-kembang, baik berupa bordir atau lukisan, binatang yang tidak melulu naga dan macan, melainkan kupu-kupu, hingga model berpayet.
Meskipun cheongsam identik dengan pakaian wanita, model cheongsam laki-laki pun tidak kalah elegan bagi para memakainya. Di samping dipakai dalam acara tahun baru Imlek, resepsi, atau acara semiformal.
Cheongsam sekarang lebih banyak detailnya dibanding cheongsam dulu. Banyaknya inovasi yang terjadi dan kreasi dari masing-masing perancang membuat cheongsam sekarang kaya akan warna dan bentuk. Model-modelnya juga bervariasi, tidak hanya berkerah tinggi, tapi juga ada yang rendah. Begitu pun model lengan, ada yang panjang, tiga perempat, atau tanpa lengan.
Sebagai informasi, cheongsam tradisional modelnya mengecil di bagian bawah dan biasanya hanya berwarna merah. Bahannya juga terbuat dari satin. Sesuai dengan perkembangan zaman, cheongsam lebih dimodifikasi dengan berbagai bahan, seperti sutra, yang lebih ringan. Potongannya tidak hanya memanjang hingga ke mata kaki, saat ini ada juga yang tiga perempat atau yang lebih pendek lagi di atas lutut. Selain itu, ada cheongsam two pieces, yang terdiri atas blus dan rok.
Imlek memang tak cuma identik dengan busana cheongsam, sejumlah ikon gaya yang lain pekan-pekan ini juga menjadi tren. Sebutlah angpau, kartu ucapan, lampion, hingga aksesori. Apalagi dengan maraknya pusat-pusat belanja menyambut tahun Macan kali ini.
Di Mall of Indonesia, Jakarta Utara, misalnya, awal pekan lalu terpajang pernik-pernik Imlek. Atrium dipasangi dekorasi gantung berupa banyak lampion. Di beberapa sudut terdapat 6 pohon mei hwa berdaun warna pink setinggi 5-7 meter serta pohon lucky angpau.
Kemudian, di Mal Kelapa Gading 3, terpampang perahu perang bergambar naga dan bangunan kuil. La Piazza tak mau ketinggalan. Sepasang naga emas berdiri mengapit pintu kerajaan yang akan menjadi pusat acara (Tempo Gading, minggu pertama Februari).
Lain lagi Senayan City, Jakarta Selatan, yang kental akan suasana cokelat. Di area utama di lantai satu, Jumat pekan lalu, tampak desain Kota Terlarang (Forbidden City) kecil. Lengkap dengan 8 replika patung Terracota yang terbuat dari cokelat asli. Tiap replika terbuat dari 150 kilogram cokelat dengan tinggi 170 sentimeter. Kedelapan Terracota itu memiliki wajah dan tata rambut berbeda.
Menurut CEO Senayan City Handaka Santosa, guna menghadirkan suasana kasih sayang dan perayaan Imlek yang berbeda, mereka tak hanya menghadirkan pertunjukan seni oriental, tapi juga serangkaian acara yang bisa menginspirasi untuk mengungkapkan kasih sayang.
Juru bicara SilverQueen Indonesia, Susilawati Tjahjo, menambahkan, "Dalam momentum istimewa ini, kami menghadirkan produk limited edition, yaitu Chunky Bar seberat 1 kilogram, The King of Bars, sebagai hadiah unik buat orang-orang terkasih."
Dwi Arjanto