Topik
Penerimaan Kepabeanan Belum Menggembirakan
TEMPO Interaktif, Jakarta - Pemberlakuan perdagangan bebas ASEAN dan Cina serta pembukaan layanan penuh pelabuhan belum berdampak signifikan terhadap penerimaan kepabeanan. Namun, pada masa-masa awal tahun ini sektor perdagangan memang belum akan berkontribusi banyak terhadap perekonomian.
Data laporan penerimaan yang tercatat pada Modul Pelaporan Online Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menunjukkan, hingga 31 Januari 2010, penerimaan bea masuk baru Rp 1,155 triliun, atau 6,97 persen dari target pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sebesar Rp 16,56 triliun. Kinerja eskpor juga belum membaik, penerimaan bea keluar baru mencapai Rp 146,89 miliar atau 1,92 persen dari target Rp 7,63 triliun.
Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Thomas Sugijata, mengakui belum ada dampak perdagangan bebas terhadap kinerja perdagangan Indonesia. "Belum, tapi itu kan baru saja awal tahun," katanya usai rapat pimpinan Kementerian Keuangan di Jakarta, Rabu (10/2).
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Anggito Abimanyu, berpendapat sama. Menurut dia, pada masa-masa awal tahun ini sektor perdagangan belum akan berkontribusi banyak terhadap perekonomian. Dia memperkirakan, perdagangan akan pulih dalam satu hingga dua kuartal mendatang. "Itu juga yang akan terjadi pada investasi kita," ujarnya.
Dia yakin sektor perdagangan bisa berkontribusi lebih banyak menyusul membaiknya perekonomian dunia. Apalagi, proyeksi pertumbuhan perdagangan dunia 2010 juga telah direvisi meningkat dari perkiraan awal 2,5 persen menjadi sekitar 5,2 persen. "Artinya proyeksinya meningkat dua kali lipat," ucapnya.
Sebab itu, kata Anggito, fokus pemerintah saat ini adalah menjaga konsumsi masyarakat. "Inflasi harus dijaga di level yang rendah untuk membantu daya beli masyarakat."
Meski kinerja bea masuk dan keluar tak menggembirakan, kinerja penerimaan cukai masih cukup baik. Hingga akhir Januari 2010, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai telah memperoleh penerimaan cukai sebesar Rp 5,23 triliun atau 9,13 persen dari target Rp 57,28 triliun.
AGOENG WIJAYA