foto

Lina Monica. TEMPO/Dwianto Wibowo


Topik


Lina Monica The Meniti Semangat Pembauran

TEMPO Interaktif, Inilah pekan yang semarak dengan warna merah menyala di segenap penjuru. Setidaknya di pusat-pusat keramaian dan belanja di Jakarta serta kota-kota di Tanah Air lainnya, yang menyambut tahun baru Cina atau Imlek. "Saya senang Imlek kini menjadi kegembiraan masyarakat luas, bukan lagi milik eksklusif etnis Tionghoa," kata Lina Monica The, pemilik restoran Smoked Crab, yang pekan lalu ditemui di gerainya, lantai lima Grand Indonesia, Jakarta Pusat.

Wanita keturunan Cina-Solo ini mengaku tak hanya bersuka cita lantaran Imlek sudah menjadi perayaan nasional yang diterima dan dirasakan masyarakat. Melengkapi kegembiraan Lina, kini secara terbuka kita bisa menyaksikan atraksi seni dan budaya semacam barongsai, wushu, tonil atau sandiwara Cina tanpa sembunyi-sembunyi lagi.
Yang dia ingat, beberapa tahun silam ia menyaksikan hal seperti itu dengan perasaan takut, khawatir, dan cemas. "Waktu itu, kalau nonton, ya, di rumah-rumah tertentu secara gerilya. Sekarang semua bisa unjuk diri," ujarnya lega.

Lina sendiri yakin Imlek sebagai kebudayaan tanah leluhurnya yang dirayakan dengan berkumpul, makan, membagi-bagi angpao yang diikuti oleh semua keluarga besar yang tumpah ruah menjadi satu di hari istimewa. Setelah kumpul-kumpul bareng ini, dilanjutkan acara saling mendoakan panjang usia, kebahagiaan, kesejahteraan, keberkahan, kesuksesan, dan hal-hal positif lain. "Kalau beberapa saudara tua yang masih lekat kecinaannya, selalu ada doa khusus atau pergi beribadah bersama di kuil," kata wanita berkulit putih yang mengaku sebagai generasi ketiga ini.

Lina menuturkan, papa-mamanya bukanlah orang Cina yang terkungkung dalam kelompoknya sendiri. Sejak kecil, kedua orang tuanya selalu mengajarkan agar ia bersama kakak-adiknya hidup membaur, berbagi, tepo seliro, dan menghargai tetangga sekitarnya. "Menikmati masa kecil dan remaja di Solo, bagi saya, justru menjadikan pribadi sangat Indonesia atau wong Jawa, bukan orang Cina," tutur penyuka makanan Jawa dan kepiting ini mengenang masa kecilnya.

Nah, lantaran ia bertetangga dengan beragam budaya, justru di kalangan teman-temannya Lina dianggap sangat ngejawani. Lina meniru sang papa, larut membaur bersama mereka. Maka tak mengherankan, bila mendengar cara bicara dan sikapnya, orang menebak dirinya seorang Jawa tulen. "Asal jangan melihat wajah saya, dijamin mereka pasti tahu saya golongan orang bermata sipit," tuturnya.

"Saya selalu katakan ke anak-anak, 'Kita tidak pernah meminta terlahir sebagai orang Cina. Kita tidak bisa menolak menjadi Tionghoa. Namun keadaan begini dan kehendak Tuhan tidak bisa dimungkiri'," ujarnya panjang-lebar.

Di setiap kesempatan, Lina selalu mengingatkan buah hatinya soal tersebut dan yang terpenting, jangan karena Cina, lalu bersikap mentang-mentang atau petantang-petenteng. Dia mengkritik salah satu kelemahan kaum etnisnya, yaitu sikap sok eksklusivisme, individual, serta terkesan sombong dan egois. Padahal kadang ia mendengar pengakuan teman-temannya bersikap demikian karena lingkungan sudah menolaknya.

Ibu tiga anak ini malang melintang di dunia laboratorium. Padahal sejak kecil ia sempat bercita-cita menjadi ahli ekonomi dan juru masak. Toh, bungsu dari lima bersaudara ini harus berpikir realistis selepas SMP dan melanjutkan sekolah analis kesehatan setingkat SMA, karena papa-mamanya berharap setamat ini bisa langsung kerja.

"Ternyata saya mencintai dunia laboratorium yang mengasah saya hingga memiliki jaringan dan bisa seperti sekarang," kata Lina, yang awal masuk di tempat kerja sempat disepelekan dan sedikit diejek. "Mereka bilang, kok, kamu Cina mau bekerja di sini, bukan berbisnis," dia melanjutkan pelan, lagi-lagi terkenang kisah lalunya.

Syukurlah, penyuka buku-buku biografi dan motivasi diri ini tak patah arang. Justru bersemangat membuktikan bisa meraih semua impian, termasuk bekerja sambil kuliah.
"Semua jalan seperti terbuka, karena saya percaya Tuhan tidak tidur. Saya selalu berdoa, ingin memiliki sesuatu yang bisa melibatkan dan bermanfaat bagi banyak orang," tutur Lina, yang sempat berkarier di laboratorium asal Amerika hingga sekarang. "Saya memiliki Prokid untuk mewadahi anak-anak berkebutuhan khusus supaya mereka berhak mendapat kelayakan dan hidup bersama dengan kita yang normal."

Bisnis yang ditekuninya sekarang pun seolah memberi penegasan sebagai restoran yang bisa dikunjungi semua keluarga. Padahal sepintas banyak yang beranggapan bahwa tempatnya hanya khusus untuk makan dan berkumpul etnis Tionghoa.
Dia tetap konsisten membaur dan menjangkau banyak pihak. Dia meniadakan menu babi, yang sering dicari dan diminta pelanggannya. "Saya katakan kepada mereka (pembeli), kalau mau menu begitu, bukan di sini," ujar Lina. l HADRIANI P

Boks

Lina Monica The
Lahir: Solo, 14 April 1967
Status: Menikah punya tiga anak
Agama: Kristen

Pendidikan:
1980-1983, Sekolah Menengah Pertama Widya Wacana, Solo
1983-1986, Sekolah Menengah Analis Kesehatan Solo (setingkat SMA)
1987-1992, Diploma Tiga dan Sarjana Strata Satu Psikologi Pendidikan Jurusan Bimbingan Konseling Universitas Kristen Indonesia, Jakarta

Karier:
1986-1992, Laboratorium Prodia, Jakarta
1992-sekarang, Staf, Manajer, dan Konsultan Ahli Laboratorium Amerind Bioclinic, Jakarta
2001-sekarang, Pendiri, Pembina dan Konsultan Prokid Pusat Terapi Anak, Jakarta
2008-sekarang, Pemilik Smoked Crab Resto, Jakarta