Dosen Universitas Brawijaya Temukan Pakan Ternak Alternatif  

TEMPO Interaktif, MALANG - Guru Besar Universitas Brawijaya Malang Sukoso, menemukan sumber protein alternatif sebagai pengganti kedelai dalam industri pakan ternak dan budidaya ikan. Sumber protein tersebut adalah khamir laut yang juga dikenal sebagai ragi laut. "Persediaan khamir laut di alam sangat banyak dan gampang didapatkan. Untuk memproduksinya juga tidak butuh teknologi tinggi," katanya, Senin (15/2).

ternak Menurut Sukoso yang menjadi staf pengajar di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, khamir laut adalah mikroorganisme yang diisolasi dari laut. Khamir laut kemudian ditumbuhkan dalam media berupa air laut yang telah diperkaya nutrisi yang ditempatkan dalam sebuah galon plastik.

Dari 20 galon plastik, dalam satu minggu akan mampu menghasilkan satu kilogram berat basah massa sel khamir laut. “Pertumbuhan sel sangat cepat dengan teknologi pembiakan sederhana," ujarnya.

Mikroorganisme laut ini merupakan bagian kecil dari potensi bioteknologi kelautan Indonesia yang bisa menyumbangkan pendapatan mencapai 40 miliar dolar per tahun dalam bentuk produk bervariasi, mulai dari sumberdaya mikroba laut, enzyme, bahan obat, bahan pangan, dan lainnya.

Selama ini pakan ternak berasal dari kedelai dan tepung ikan. Penggunaan kedelai sebagai bahan pakan ternak akan menganggu persediaan bahan pangan seperti tahu dan tempe. Sedangkan penggunaan tepung ikan akan menguras sumberdaya ikan yang tersedia yang layak digunakan sebagai konsumsi pangan manusia.

Dia menjelaskan, Indonesia harus mengimpor sekitar 1 juta sampai dengan 1,2 juta ton per tahun untuk memenuhi kebutuhan kedelai dengan harga Rp 7.500 per kilogram. Kedelai yang diimpor tersebut tidak hanya digunakan untuk pembuatan tahu, tempe dan bahan pangan lainnya, tetapi juga digunakan untuk bahan utama industri pembuatan pakan ternak dan ikan. "Pakan dari kedelai bisa mengganggu stok pangan rakyat. Untuk itu harus segera diganti khamir laut yang harganya lebih murah sekitar Rp 2 ribu per kilogram,” tuturnya.

Petani dan peternak masih sangat tergantung pada pakan industri. Akibatnya, keuntungan yang mereka dapatkan sangat tipis atau tidak maksimal karena harga pakan sangat mahal.

BIBIN BINTARIADI