Topik
Setelah Cina, Jepang Lirik Investasi ke Indonesia
TEMPO Interaktif, Jakarta - Pemerintah Jepang membuka peluang investasi ke Indonesia. Selama ini hampir seluruh investasi dari Negeri Matahari Terbit mengalir ke Cina. "Jepang akan mengadopsi strategi yang berbeda dengan Cina+1," kata Staf Khusus Wakil Presiden, Yopie Hidayat, yang mendampingi Wakil Presiden Boediono dalam pertemuan dengan Presiden Japan Bank International Cooperation Hiroshi Watanabe di Kantor Wakil Presiden, Selasa (16/2).
Yopie menambahkan, Cina+1 ini akan membuka peluang investasi ke salah satu negara yang dilirik yaitu antara India dan Indonesia. Kedua negara ini memiliki pertumbuhan ekonomi yang cukup bagus meski tengah dilanda krisis. Apalagi, India dan Indonesia memiliki kesinambungan stabilitas politik.
Dalam diskusi dengan Wakil Presiden, Japan Bank yakin dampak krisis di sejumlah negara Eropa, seperti Yunani dan Spanyol, tak berimbas ke Asia lantaran negara-negara Asia memiliki pilar dan basis pertumbuhan yang kuat. "Hanya akan terjadi kontraksi saja," katanya. Setelah itu, perekonomian di Asia tumbuh kembali.
Pemerintahan baru Jepang di bawah kendali Perdana Menteri Jepang Yukio Hatoyama yang menjabat sejak 16 September 2009 memiliki komitmen dan perhatian pada pertumbuhan di Asia, terutama dalam berinvestasi. "Asia adalah home dan hal ini akan segera meningkatkan kerjasama bilateral dengan Cina, India, dan Indonesia," ujarnya.
Pemerintah Jepang, kata Yopie, memiliki komitmen tinggi dalam proyek energi yang bersih, air minum, dan urban transportrasi. Dalam pembicaraan itu, Wakil Presiden Japan Bank sempat menyinggung soal energi geotermal dan peluang investasi. "JBIC akan melihat secara seksama dan mengevaluasi kerjasama di bidang geothermal," ucapnya.
Sedangkan kemungkinan investasi di bidang urban transportasi, Hiroshi mengatakan masih membuka kemungkinan kesempatan. Meski demikian, Japan Bank masih fokus pada pembangunan monorel di Cina. Sementara proyek urban transportasi di Indonesia, didanai Japan International Cooperation Agency (JICA) yang memberikan pinjaman dengan jangka waktu lebih panjang dan bunga lebih rendah.
Hiroshi menegaskan, Indonesia merupakan klien terbesar dari Japan Bank. Hingga saat ini, Japan Bank telah menyalurkan pinjaman ke Indonesia sebanyak US$ 80 miliar. Sedangkan dalam proyek Leading Investment to Future Environment, meliputi tiga bidang proyek energi yang bersih, air minum dan urban transportrasi, Japan Bank memberikan US$ 5 miliar selama 2 tahun.
Japan Bank juga menyiapkan Samurai Bond untuk negara-negara di Asia sebesar 500 miliar yen. Soal pemanfaatan Samurai Bond, Yopie mengatakan, hal itu menjadi area Kementerian Keuangan untuk memutuskan. "Tapi pemerintah sudah terbitkan satu kali," ucapnya.
EKO ARI WIBOWO