Dua petani mengaduk pupuk yang baru saja didapatnya setelah dua minggu menunggu di kawasan Sungai Citarik, Bogor, (14/12). Beberapa pekan terakhir sejumlah daerah di Indonesia mengalami kelangkaan pupuk. TEMPO/Arie Basuki
Topik
Petani Cirebon Dihimbau Beralih ke Pupuk Organik
TEMPO Interaktif, CIREBON - Menyusul pasokan pupuk dan ketergantungan terhadap pupuk kimia, para petani di kabupaten Cirebon diminta mulai beralih ke pupuk organik. "Karena kondisinya sudah merusak struktur tanah. Tanah menjadi cepat jenuh" kata Tasrip Abu Bakar, Wakil Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia di Cirebon,
Selain merusak unsur tanah, hasil panen padi pun kurang memuaskan karena selalu ada ancaman hama. Apalagi, pupuk kimia bersubsidi setiap tahun mengalami kenaikan harga. "Harga pembelian gabah memang dinaikkan pemerintah, tapi harga pupuk pun dinaikkan juga," katanya.
Kondisi ini menurut Tasrip tentu tidak berpengaruh bagi petani karena harga jual gabah tidak stabil. "harga gabah masih tergantung tengkulak. Kalau sedang panen raya, tengkulak pasti membeli gabah petani dengan harga yang rendah sekali," katanya.
Karenanya untuk meminimalkan kerugian, penggunaan pupuk organik mulai bisa dilakukan oleh petani di Kabupaten Cirebon. "Apalagi bahan untuk membuat pupuk organik banyak terdapat di sekitar kita," katanya.
Tasrip menambahkan, ia pun sudah mulai menggunakan pupuk organik sebagai pengganti pupuk kimia. Harganya pun murah, yaitu hanya Rp 700 ribu untuk membuat pupuk organik untuk satu hektar areal tanaman padi. "Pupuk organik itu saya buat dari ampas tebu," katanya.
Hasilnya pun cukup menggembirakan, yaitu bisa mencapai 6 ton untuk setiap hektarnya atau sama dengan penggunaan pupuk kimia. Biaya ini tentu sangat jauh dibandingkan penggunaan pupuk kimia, yang satu hektarnya bisa mencapai Rp 1,5 juta. "Jumlah itu belum termasuk untuk biaya obat-obatannya," katanya.
Kelebihan lainnya, unsur hara tanah menjadi lebih subur. "Sehingga setiap tahunnya hasil panen bisa terus bertambah lebih baik," katanya.
IVANSYAH





