Topik
Ketika Sardono Memungut Babad Diponegoro
TEMPO Interaktif, Jakarta - Koreografer senior Sardono W Kusumo mengungkapkan bahwa semua bahan untuk karyanya, Opera Diponegoro, berasal dari Babad Diponegoro versi Yogyakarta maupun Surakarta. "Seluruh naskah saya ambil dari babad Diponegoro versi Yogyakarta maupun Surakarta," kata Sardono seusai gladi resik pementasannya pada sore ini.
Opera Diponegoro akan dipentaskan malam ini dan esok pukul 20.00 WIB di Teater Salihara. Pertunjukan ini merupakan tari kontemporer yang memadukan wayang golek dan teater. Untuk karyanya ini Sardono menggunakan beberapa rujukan sejarah, seperti lukisan Penangkapan Diponegoro karya Raden Saleh (1857), Babad Diponegoro versi Yogyakarta dan penelitian sejarawan Inggris, Peter Carey, atas Babad Diponegoro versi Surakarta.
Seperti halnya pertunjukan wayang golek, dialognya didominasi oleh syair-syair, yang dipungut dari babad versi Yogyakarta. "Semua syair tembang saya ambil dari babad. Tak ada yang berubah," ujar Sardono.
Sebuah reproduksi lukisan Penangkapan Diponegoro berukuran raksasa menjadi geber yang transparan di panggung. Para pemain akan berekspresi dan terlihat bermain di balik layar tersebut. Dengan pencahayaan yang terukur, pementasan akan terlihat lebih dramatis.
Di awal pertunjukan, kata Sardono, sejarawan Inggris Peter Carey akan menjelaskan sedikit tentang lukisan Raden Saleh yang menggambarkan penangkapan Diponegoro di rumah Residen Magelang itu.
Untuk musiknya, komposer Waluyo Sastro Sukarno mengkolaborasikan musik gamelan Jawa dengan unsur musik klasik. "Pada saat itu, unsur Jawa yang diwakili gamelan serta musik klasik sebagai penggambaran kolonialisme, sangat erat," ujar Waluyo.
Pada sebuah adegan Waluyo akan menunjukkan perpaduan klasik, gamelan Jawa dan nuansa keislaman seperti musik barzanzi dalam satu repertoar yang berbarengan. Pertunjukan ini akan menjadi sebuah opera Jawa yang tersusupi oleh warna lain, menjadi sesuatu yang baru dan tak terduga. Dalam dunia seni, dia adalah sebuah keindahan.
Ismi Wahid