Bantuan Korban Longsor di Garut Kurang

TEMPO Interaktif, Garut -Persedian logistik korban longsor di Kecamatan Talegong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, kembali menipis. Bantuan satu ton beras dari Dinas Sosial Kabupaten Garut dan paket sembako dari Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan yang diberikan pada Senin (22/2) kemarin, belum mencukupi kebutuhan pengungsi. “Pasokan bantuan hanya mencukupi sampai hari kamis besok,” ujar Camat Talegong, Rena Sudrajat, dihubungi Tempo melalui telpon selulernya, Rabu (24/2).

Sampai hari ini, jumlah pengungsi terus bertambah. Sedikitnya tercatat 615 kepala keluarga yang terdiri dari 2.446 jiwa menempati tempat pengungsian. Mereka berasal dari Desa Sukamulya, Sukalaksana dan warga Desa Sukamaju.

Para pengungsi itu dipusat di lima titik pengungsian. Diantaranya di Desa Sukalaksana yakni di kampung Genteng, Cibungur, Datar Kupa dan Sawah Jeruk. Sedangkan di Desa Sukamulya, pengungsian dipusatkan di kampung Gadog. “Bantuan baru dari pemerintah daerah dan provinsi, jumlahnya juga terbatas,” ujarnya.

Selain itu, penyaluran bantuan juga mengalami hambatan. Bantuan hanya bisa didistrubusikan sampai Kampung Genteng, itu pun harus melalui jalur Pangalengan, Bandung. Sedangkan, penyaluran bantuan ke tempat pengungsian lainnya harus dilakukan dengan cara dipikul, jaraknya sekitar tujuh kilometer.

Bencana longsor terjadi pada Kamis (18/2) lalu itu mengakibatkan sekitar 30.871 warga Kecamatan Talegong terisolir. Akses transportasi menuju daerah yang berada 120 kilometer arah selatan dari pusat kota Garut itu terputus total. Ruas jalan provinsi dari Garut merobohkan jembatan Cibubuay dan tembok penahan jembatan Batu Sero sepanjang 10 meter di kampung Nangewer, Desa Sukamulya, sehingga tidak bisa dilewati kendaraan.

Sedangkan dari Bandung, di ruas jalan Talegong-Pangalengan sepanjang 17 kilometer, sedikitnya terdapat 56 titik longsor. Bahkan, material longsor di Kampung Patok dan Pilar, Desa Sukalaksana, menutup bahu jalan sepanjang satu kilometer dengan ketebalan tanah sekitar 10 meter. “Proses evakuasi tidak akan selesai dalam waktu satu bulan, karena selain curam juga sulit untuk membuang material longsoran,” ujar Rena.

Potensi longsor susulan juga sangat besar. Soalnya, banyak retakan tanah yang terjadi di tiga Desa yakni di Desa Sukalaksana, Sukamulya dan Desa Sekamaju. Sehingga bila terjadi hujan, air akan cepat masuk dan menggerus tanah retak tersebut.

Bencana itu juga, tambah Rena, mengancam daya beli seluruh warganya yang tinggal di tujuh desa. Pasca bencana, harga kebutuhan pokok terus melambung. Dia mencontohkan harga beras di wilayahnya mengalami lonjakan dua kali lipat, dari yang tadinya Rp4.000/kilogram menjadi Rp10.000/kilogram. Selain itu juga kesulitan bahan bakar, kalau pun ada harga bensin per liternya mencapai Rp7.500.

Untuk kebutuhan hidupnya, warga terpaksa membelinya ke kecamatan terdekat yakni Kecamatan Cisewu dan Pangalengan, Bandung. Namun itu juga harus ditempuh dengan jalan kaki menyusuri lereng-lereng gunung.

Menurut Rena, untuk melancarkan distribusi bantuan saat ini tim dari Dinas PU Bina Marga Provinsi Jawa Barat dan Garut telah diterjunkan ke lokasi. Tim dari Provinsi rencananya akan membangun jembatan darurat dengan menggunakan besi di Jembatan Cibubuay. Sedangkan, tim dari Garut, akan melakukan pengukuran untuk memperbaiki jembatan Cikabuyutan dan Jalan Ciwaru yang memutuskan empat desa yakni Desa Sukamulya, Selaawi, Mekarwangi dan Desa Mekarmukti. “Mudah-mudahan perbaikan ini juga dapat memulihkan perekonomian warga,” ujarnya.

Kepala Dinas Tenaga Kerja, Sosial dan Transmigrasi Kabupaten Garut, Elka Nurhakimah, mengaku menyiapkan bantuan logistik ke kecamatan Talegong. Bantuan yang akan disalurkan itu berupa beras sebanyak 2-4 ton beras. “Kita sedang menyiapkan kendaraannya dulu, karena medannya cukup sulit,” ujarnya ditemui diruang kerjanya.

Penyaluran bantuan itu akan melalui jalur Pangalengan, Bandung. Alasannya, jalur Garut sulit untuk dilalui kendaraan, selain itu dikhawatirkan terjadi longsor susulan di jalan menuju Selatan.

SIGIT ZULMUNIR