Topik
Parodi Begal Jamaludin
TEMPO Interaktif, Jakarta -
Inilah kisah pengorbanan cinta yang berakhir tragis. Tentang seorang lelaki bernama Jamaludin yang sangat mencintai Sutijah, putri Raja Anggreng Tuna. Namun cintanya tak mendapat restu.
Ketika desanya diporakporandakan pihak kerajaan, Jamaludin geram. Dia membalas dendam dengan menjadi begal dengan kekuatan yang tak tertandingi. Ketika ia memadu kasih dengan Sutijah, maut seolah mengintai. Panah melesat dan menembus jantungnya. Matilah Jamaludin di pangkuan kekasihnya.
Kisah cinta Jamaludin dipentaskan oleh Teater Boneka Cingcingmong di Tetaer Salihara, Jumat dan Sabtu pekan ini di Teater Salihara, dengan judul Geger Jamaludin. “Kisahnya betul ada, tetapi judulnya tidak demikian,” kata Sri Waluyo Sebat, dalang teater boneka ini seusai pertunjukan.
Istilah cingcimong dipakai karena pertunjukan tersebut melibatkan berbagai gaya pelakonan, seperti wayang golek gaya Tegal, Kebumen, Cirebon, Banyumas bahkan ujung timur pulau Jawa yaitu Banyuwangi. "Cingcingmong berarti bergandengan tangan," ujar Waluyo .
Lakon Jamaludin, menurut Waluyo, di amabil dari babad Tegal. Tak semua dalang berani memainkan lakon asli yang berjudul Begal Jamaludin ini. Tetapi Waluyo berhasil mementaskan dengan sangat berbeda, diluar pakem wayang golek sekaligus memparodikannya. Begitu juga dengan garapan musiknya. Gamelan yang mengiringi juga sudah direkayasa. Tak mengikuti tangga nada slendro atau pelog, tapi berbaur dengan alat musik modern, diatonis. "Tak lagi sesuai pakem," jelas Waluyo.
Ismi Wahid