starbucks/Tempo/Nickmatulhuda
Topik
Memburu Bintang Hari Esok
TEMPO Interaktif, Jakarta -
Judul Buku: Finding the Next Starbucks
Penulis: Michael Moe
Penerbit: Elex Media Komputindo
Edisi: I, Desember 2009
Tebal: xi + 425 halaman
Buku ini ditulis oleh orang yang telah 20 tahun berpengalaman menemukan dan berinvestasi di perusahaan kecil yang dapat menjadi perusahaan besar--bintang-bintang hari esok. Michael Moe termasuk analis yang pertama menemukan bahwa Starbucks bakal melejit di masa depan, begitu pula Google bakal bersinar terang, pada saat kedua perusahaan ini masih kecil.
Begitu hebatkah Moe atau itu sekadar keberuntungan, seni dan intuisi, ataukah hasil kalkulasi yang orang lain bisa pelajari? Di Finding the Next Starbucks, Moe--mantan direktur riset pertumbuhan saham global di Merrill Lynch dan kemudian mendirikan ThinkEquity Partners LLC--menunjukkan bahwa melakukan kalkulasi adalah bagian penting sebelum Anda memilih di perusahaan mana Anda hendak berinvestasi.
Salah satu pelajaran berharga yang dibagikan Moe adalah jika Anda ingin berinvestasi di perusahaan, itu tak cukup dengan membaca laporan keuangan. Berkaca pada bursa saham Wall Street, ia menasihati, Anda akan sulit menemukan perusahaan yang bakal menjadi bintang masa depan, padahal perusahaan-perusahaan kecil berpotensi hebat inilah yang sebaiknya kita buru. Wall Street berfokus pada perusahaan yang sudah dikenal orang.
Langkah pertama sebelum membidik calon bintang adalah mengevaluasi berbagai megatren pada masing-masing industri. Yang dimaksudkan oleh Moe adalah kekuatan-kekuatan yang bersifat teknologi, ekonomi, dan sosial, yang berkembang dari luapan perasaan sekelompok orang mengenai suatu hal (penerimaan awal), meluas ke sebagian besar orang (pasar massa), dan mengacaukan status quo (pasar yang suram/kurang berkembang), yang menggerakkan perubahan, produktivitas, serta pada akhirnya melahirkan peluang-peluang bertumbuh bagi perusahaan, industri, dan seluruh ekonomi. Mungkin ini semacam creative destruction seperti yang dibayangkan Joseph Schumpeter.
Dengan langkah itu, Moe meletakkan perusahaan di dalam konteks megatren, bukan membidiknya sebagai entitas yang steril dari habitatnya. Megatren adalah penggerak pertumbuhan jangka panjang. Ini mirip dengan yang disampaikan Bill Gates: bila kita ingin mencermati perkembangan suatu perusahaan, kita harus melihat perkembangan industrinya pula. Setelah mengenali industri yang berpotensi menghasilkan pertumbuhan laba yang tinggi, barulah ia masuk ke langkah berikutnya: memilah-milah mana bintang masa depan dan mana perusahaan biasa.
Moe memakai pisau 4P untuk membedahnya, yakni people (orang), product (produk), potential (potensi), dan predictability (prediktabilitas). Orang adalah yang terpenting di antara semua itu. Sebab, seperti dikatakan Bill Gates, "Ambillah 20 orang terbaik kami dan saya dapat mengatakan kepada Anda bahwa Microsoft akan menjadi sebuah perusahaan yang tidak penting."
Tentu saja produk juga penting, namun produk merupakan manifestasi dari orang yang berada di belakangnya. Moe menyarankan kita untuk melihat berapa besar penghasilan yang diinvestasikan untuk riset dan pengembangan. Dari pos inilah kita dapat melihat dan memahami seberapa besar komitmen sebuah perusahaan terhadap kualitas dan inovasi. Mengapa inovasi? Sebab, seperti kata Steve Jobs, inovasi membedakan antara seorang pemimpin dan seorang pengikut. Dan inovasi sangat ditentukan oleh visi orang-orangnya.
Moe membidik perusahaan-perusahaan yang memiliki potensi terbesar, yakni yang mampu menemukan masalah di pasar. Peluang investasi klasik terletak pada masalah. Semakin besar masalahnya, semakin besar peluangnya. Karena yang dibidik adalah perusahaan-perusahaan kecil yang kelak menjadi bintang, titik krusial yang harus dicermati adalah seberapa jelas pertumbuhannya. Salah satu tantangan terbesar untuk perusahaan muda yang cepat tumbuh adalah memberikan hasil kerja yang dapat diprediksi. Dan ini bukan perkara mudah.
Di antara 4P tersebut--tanpa mengabaikan P yang kelima, yakni Profitabilitas--people-lah yang utama. Sering kali visi dan semangat seorang wirausahalah yang memicu peluang bisnis. Pertumbuhan Wal-Mart yang luar biasa sangat ditentukan oleh semangat dan visi Sam Walton untuk membawa nilai-nilai kemudahan dan kenyamanan ke pedesaan Amerika. Ketika industri komputer masih didominasi mainframe andalan IBM, Bill Gates muda bermimpi membuat komputer yang lebih gampang digunakan. Dan ketika melihat sebuah toko kecil yang menjual kopi, Howard Schultz langsung berangan-angan ingin memberikan pengalaman kedai kopi Italia kepada masyarakat Amerika--kedai yang menawarkan keramahtamahan kepada pengunjungnya.
Moe memperkaya argumen-argumennya dengan menyertakan pandangan sejumlah praktisi bisnis yang ia wawancarai. Howard Schultz, CEO Starbucks, dan Michael Milken, pemilik Knowledge Universe Education, berbagi ide dan wawasan yang hebat mengenai bagaimana berinvestasi dan mengelola perusahaan. Studi kasus Moe yang bersifat komparatif memberi ilustrasi yang menyegarkan mengenai bagaimana prinsip 4P diterapkan saat menganalisis suatu perusahaan. Dan kunci perusahaan yang unggul adalah inovasi. Tentu saja ini bukan hanya perkara produk, tapi juga inovasi pemasaran, pasokan bahan baku, pengelolaan manusianya, bahkan inovasi pengelolaan keuangan perusahaan.
Lewat Finding the Next Starbucks, Moe menunjukkan bahwa berinvestasi dengan benar pada saham perusahaan bukanlah sejenis spekulasi. Kesuksesan investasi terletak pada pengetahuan yang memadai mengenai perusahaan itu dan industri yang menjadi habitatnya. Sebuah buku yang kaya wawasan.
* Dian R. Basuki, pembaca buku