Evakuasi Korban Longsor Dihentikan  

TEMPO Interaktif, BANDUNG - Pencarian korban longsor Gunung Waringin di kampung Cimeri afdeling Perkebunan Dewata Pusat, Desa Tenjolalaya, Kabupaten Bandung, resmi dihentikan Senin (1/3) siang sekitar pukul 12.00 WIB. Sebanyak 11 dari 44 jasad korban tewas dinyatakan dikubur masal di lokasi timbunan tanah longsor. Sisanya sebanyak 33 korban tewas yang berhasil ditemukan sudah diserahkan kepada keluarga.

Kepala Kepolisian Resor Bandung Ajun Komisari Besar Imran Yunus menyatakan tim gabungan evakuator dari berbagai unsur sudah berupaya maksimal mencari korban yang tertimbun setiap hari selama sepekan mulai pukul 08.00 hingga pukul 16.00.

"Hasilnya 75 persen korban yang tertimbun ditemukan,"kata Imran di Posko Utama SD Negeri Dewata I, Cimeri, Senin (1/3).

Proses pencarian korban di timbunan longsor dan penyusuran sungai Cimeri nyaris tak menemui kendala selain cuaca. "Juga sarana komunikasi yang kurang lancar (ke luar wilayah longsor),"kata dia.

Dari pantauan di lokasi, hari ini pencarian korban dilakukan mulai pukul 08.00 dan disetop pukul 12.00 dengan bantuan alat berat ekskavator di empat zona pencarian. Namun, pencarian terakhir ini tak berhasil menemukan korban dari timbunan longsor.

Penghentian proses evakuasi juga ditandai dengan gelaran shalat jenazah di area timbunan longsor. Ini karena semua korban yang belum ditemukan tersebut beragama Islam.

Sembahyang tersebut digelar berjamaah di atas area timbunan longsor sebelah timur dan menghadap ke barat, ke arah lokasi sisa para korban masih terkubur. Shalat yang diikuti sekitar 20 orang jamaah ini dipimpin Ketua Majelis Ulama Kabupaten Bandung, Anwar Syaifuddin Kamil.

Adapun Nama-nama korban yang belum ditemukan tersebut adalah Entin Yayat (perempuan, 40 tahun), Salfa binti Ardi (P,1), Eulis Ardi (P,25), Rani binti Eka (P,2), Ratna binti Titi (P,25), Juju Rustadi (Laki-laki, 40). Juga Ikhsan bin Agus (L, 4), Alfart Irvansyah (L,3), Ida (P, 20), Irwan (L,25), dan Syifa binti Irwan (P,7 bulan).

Sementara itu Jasad korban terakhir ditemukan sebanyak empat orang pada Minggu (29/2). Keempatnya adalah Jeni (L, 24 tahun), Lilis Suminar (P,30), Risma binti Suhiman (P,3), dan Ahmad Nuryadin (L,22).

Dari 33 korban yang ditemukan, 19 diantaranya berjenis perempuan, termasuk anak berusia di bawah lima tahun sebanyak 4 orang. Sisanya, 14 korban, berjenis laki-laki termasuk 4 anak di bawah lima tahun.

Imran mengakui, sebelumnya jumlah korban yang diduga teas tertimbun longsor tercatat 45 orang. Namun, warga perempuan bernama Popon (53) itu ternyata belakangan diketahui masih segar-bugar.

"Sesaat setelah kejadian, dia (Popon) ternyata langsung mengungsi ke keluarganya di Soreang (Kabupaten Bandung) dan tidak memberitahukan keberadaannya (ke tim evakuasi). Kami baru menerima informasi bahwa dia masih hidup kemarin (Minggu (29/2)),"kata Imran.

Bupati Bandung Obar Sobarna menyatakan, dengan dihentikannya upaya pencarian korban maka tim evakuasi dari berbagai aparat dan elemen masyarakat berikut peralatan yang digunakan akan ditarik keluar dari Perkebunan Dewata.

"(Aparat pemerintah) Yang tersisa nanti hanya musyawarah pimpinan kecamatan dan Dinas Kesehatan,"kata dia.

Aparat Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung tersebut akan mengawal pengungsi yang tinggal di tenda-tenda pengungsian di areal Perkebunan Dewata. Jumlah pengungsi tersebut tercatat 218 orang. "Saya juga sudah meminta Dinas Kesehatan supaya menambah tenaga kesehatan untuk para pengungsi. "

 

ERIK P HADI