Topik
Kunang-kunang di Arab Saudi
TEMPO Interaktif, Jakarta - Teater Siluet menggunakan metafor kunang-kunang sebagai lambang bagi impian para pekerja migran Indonesia dalam lakon Pemburu Kunang-kunang yang mereka pentaskan di Gedung Kesenian Jakarta, 26-27 Februari lalu.
Pertunjukan teater musikal itu mengisahkan nasib buruk pekerja Indonesia yang berjuang di negeri orang itu. Karena himpitan ekonomi, mereka harus pergi meninggalkan tanah air tercinta. Bagi mereka, kerja apa saja tak ada masalah, yang penting impian mereka menjadi nyata.
Mereka berjuang seraya berharap menemukan jalan terang untuk mengubah nasib. Tapi, mereka juga sadar akan bahaya yang suatu saat menimpa mereka, seperti penyiksaan dan bahkan hukuman mati. Mereka terus berupaya untuk meraih impian itu, meskipun semu.
Menurut sutradara R. Tono, ide cerita pertunjukan ini berangkat dari kisah para pekerja migran yang menjadi korban ketidakadilan. Menurutnya, ada perlakuan yang salah terhadap para pekerja itu, karena di satu sisi mereka adalah penyumbang devisa terbesar di negeri ini, tapi nasibnya tak sebaik julukannya. "Ketika para pekerja itu dirundung masalah pun, mereka kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Sebuah ironi di negeri ini," kata Tono pada Sabtu malam lalu.
Menurut Tono, impian yang mereka buru itu bak cahaya kunang-kunang, yang tak akan bertahan lama dan akan hilang keseokan harinya. Tono juga meramu ide ceritanya dengan sepucuk surat yang ditulis oleh Yanti Sukardi, seorang pekerja Indonesia yang dihukum mati oleh pemerintah Arab Saudi pada 2008. "Surat tersebut ditulis Yanti sesaat sebelum dia dieksekusi," kata Tono. "Isi surat tersebut memiliki sebuah pesan yang begitu dalam tentang penderitaan, penyesalan dan harapan seorang tenaga kerja Indonesia."
Herry Fitriadi