foto

Pengamat politik Arbi Sanit. TEMPO/Nickmatulhuda

Arbi Sanit: Kecil Peluang Voting Terbuka dalam Rapat Paripurna Terbuka  

TEMPO Interaktif, Jakarta - Pengamat politik dri Universitas Indonesia, Arbi Sanit, meramalkan peluang dilakukannya voting terbuka dalam Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat terkait skandal Bank Century, Selasa (2/3) kecil. "Voting terbuka akan membuat konflik Century berlarut-larut," katanya saat dihubungi Tempo hari ini.

Sebaliknya, Arbi melanjutkan,  peluang untuk dilakukannya voting tertutup akan lebih besar.  Apalagi, pendapat Fraksi PDI Perjuangan, Golkar dan PKS  tidak bulat. "Selama ini, yang kita dengar  adalah pendapat fraksi, bukan pendapat pansus Century," katanya.

Menurut Arbi, voting tertutup lebih memberikan ruang pada DPR untuk menyelesaikan kasus Century. Selain itu, voting tertutup juga bisa menghindari konflik antar fraksi yang berlarut-larut. "Tidak bisa menyatukan keinginan tujuh fraksi di Dewan, mesti ada kompromi," katanya.

Alasan lain, masih menurut Arbi, dasar hukum untuk melakukan voting terbuka  masih diperdebatkan oleh DPR hingga saat ini. "Menurut peraturan asli dari UU Hak Angket Tahun 1954 itu tertutup, tapi pada UU Susunan dan Kedudukan DPR Tahun 2009 itu terbuka. Sekarang itu jadi perdebatan," kata Arbi, seraya menegaskan bahwa tumpang tindih undang-undang tersebut  karena ketidakpahaman pada politikus di Senayan dalam membuat undang-undang.

Terkait skandal Century, Arbi tetap yakin bahwa pemakzulan terhadap presiden peluangnya masih kecil. "DPR fungsinya membersihkan negara ini dari korupsi. Namun,  jika dalam memberantas korupsi membahayakan stabilitas politik negara, misalnya dengan mengganti presiden, itu celaka," ujarnya, "Satu sisi rakyat diuntungkan, di sisi lain rakyat dirugikan."

FEBRIANA  FIRDAUS