Petani menjemur gabah di Desa Bojongkunci, Kec. Pameungpeuk, Kab. Bandung, Selasa (5/12). Pemerintah menyatakan Indonesia tahun ini surplus beras 3 juta ton. Diprediksikan nilai ekspor beras meningkat sampai 100% tahun ini. TEMPO/Prima Mulia
Topik
Oalah, Petani Bojonegoro Emoh Jual Gabahnya
TEMPO Interaktif, Bojonegoro - Petani di sejumlah tempat di Bojonegoro, Jawa Timur, mengaku akan menyimpan gabah dan tidak akan menjualnya selama satu bulan ke depan. Hal itu menyusul anjloknya harga gabah kering panen (GKP) di Bojonegoro hingga Rp 1.200 per kilogram dari harga sebelumnya Rp 2.500 per kilogram.
Pertimbangan lain, kondisi cuaca dalam dua pekan terakhir yang tidak menguntungkan petani untuk menjual gabahnya. Akibat hujan yang turun hampir tiap hari membuat sejumlah areal persawahan terendam banjir. Para petani juga khawatir, produksi gabah pada panen pertama ini merosot tajam.
Fatoni, petani asal Desa Sidomukti, Kecamatan Kasiman, mengaku, di rumah masih menyimpan sekitar tiga ton GKP, dari hasil panen pertama. Alasannya, selain harganya anjlok, juga susahnya mencari tempat jemuran gabah karena kerapnya turun hujan. “Tidak saya jual dulu, kecuali harganya cocok,” ujarnya pada Tempo, Selasa (2/3) pagi.
Kini, tanah orang tuanya seluas dua hektare, masih menyisakan sekitar satu hektare tamanan padi yang satu-dua pekan bisa dipanen. Sambil menunggu panen, Fatoni, juga menyiapkan benih padi, untuk musim tanam kedua, setelah panen pertama menghasilkan sekitar 5 ton per hektare.
Dia berharap, jika gabahnya dijual satu bulan ke depan, harganya bisa normal, rata-rata sekitar Rp 2.000 per kilogram. Meski demikian, dia mengaku cukup berat untuk tidak menjual gabah secepatnya, mengingat hasil penjualan bisa untuk tambahan modal musim tanam kedua. “Harus pintar mengatur dana,” kata Ayah dua anak ini.
Di Bojonegoro, sejumlah kecamatan tengah melakukan panen pertama, seperti di Kecamatan Kalitidu, Kecamatan Sumberejo, Kecamatan Balen, Kecamatan Kapas, Kecamatan Padangan, Kecamatan Kasiman, dan Kecamatan Purwosari. Daerah tersebut termasuk kawasan pinggir Bengawan Solo yang sawahnya rentan terendam banjir.
Kepala Sub-Bulog Divisi Regional II Bojonegoro, Imam Budi belum bisa dikonfirmasi. Beberapa kali telepon selularnya tidak diangkat meski dalam kedaan aktif. Selama ini, Bulog Bojonegoro melakukan pengadaan gabah dengan harga Rp 2.000 per kilogram. Jatahnya sekitar 180 ton, untuk Bojonegoro, Lamongan dan Tuban. Jual beli gabah biasanya dilakukan dengan cara tender.
Aksi tidak menjual gabah pada musim tanam, pernah dilakukan petani di Bojonegoro pada Februari 2007 silam. Alasan petani karena harga gabah ketika itu anjlok hingga mencapai Rp 950 per kilogram.
SUJATMIKO






Web via