ANTARA/Widodo S.
Topik
Kofi Annan Ingatkan Presiden Krisis Belum Berakhir
TEMPO Interaktif, Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima kunjungan mantan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), Kofi Annan, Kamis (4/3), di Istana Negara, Jakarta.
Dalam kunjungan itu, Annan menyampaikan pidato 'Presidential Lecturer'. "Saat ini ancaman memang banyak, mulai dari kelaparan, ancaman teroris, pliferasi nuklir, sehingga memang dibutuhkan tindakan brsama," kata Annan saat menyampaikan materi pidatonya.
Pidato tersebut disampaikan Kofi Annan didepan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil Presiden Boediono, serta para menteri.
Annan mengatakan kebersamaan sangat penting karena resesi belum berakhir, perekonomian dunia belum aman, dan kesenjangan masih tinggi. "Kita belum melakukan apa-apa yang bisa menjamin tidak akan lagi ada krisis global," katanya, yang mengenakan batik hijau lengan panjang itu.
Pemimpin G8, kata Annan, tak lagi bisa memberikan jawaban atas permasalahan dunia. Sebaliknya posisi dan keberadaan G20 mulai menguat. Dibutuhkan solidaritas global untuk menjawab permasalahan global. "Saya harap Indonesia bisa merepresentasikan negara-negara berkembang yang belum bisa mendapatkan akses," katanya.
Selain itu Annan juga menyinggung soal pemanasan global. Ia menyayangkan sampai saat ini belum ada komitmen diantara negara-negara untuk mencadangkan US$ 1000 miliar per tahun untuk mengurangi efek pemanasan global.
Annan juga mengaku kecewa dengan hasil pertemuan Copenhagen beberapa waktu lalu tentang penanganan pemanasan global. "Pertemuan Copenhagen juga mengecewakan, sangat lemah dan tidak mewakili apa yang telah dimandatkan Bali Action Plan," katanya.
Padahal, kata Annan, ancaman naiknya permukaan air laut, naiknya gas rumah kaca adalah ancaman nyata bagi masyarakat. "Saya melihat Indonesia sudah menawarkan dan menunjukkan kepemimpinannya dalam memberikan tawaran untuk menurunkan emisi gas buang karena memiliki hutan yang luas," kata Annan.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan penanganan pemanasan global dan perubahan iklim semestinya dimotori negara-negara maju. "Harusnya semua maju sama-sama. Yang memiliki kemampuan lebih harus bersedia membantu," kata Presiden.
Ia mengatakan Indonesia telah mematok penurunan emisi gas buang hingga 26 persen pada 2020. Emisi bisa ditekan hingga 40 persen, kata Presiden, jika ada bantuan dari negara-negara maju. "Indonesia telah mengambil langkah untuk mengurangi 26 persen emisi dan 40 persen dengan bantuan internasional," kata Presiden.
Dwi Riyanto Agustiar