foto

TEMPO/Panca Syurkani

Motor Kesayangan Harus Siap Lecet Saat Parkir

TEMPO Interaktif, Jakarta - Persoalan parkir sepeda motor, bagi Posma Silalahi, bukan sekedar tidak ada tempat di mal-mal mewah. Di sejumlah pusat perbelanjaan yang menyediakan parkir sepeda motor, lahannya terlalu sempit sehingga mesti berdesak-desakan.

Risiko berdesak-desakan ini, salah satunya, membuat cat sepeda motor lecet seperti yang dialami akhir tahun lalu. Saat itu ia parkir di Mal Ambassador,  Jakarta Pusat. Gesekan dengan sepeda motor di sebelahnya membuat Yamaha V-ixion itu itu lecet untuk pertama kali. "Padahal baru dua bulan keluar dealer," kata Posma sambil menunjuk goresan di badan kendaraan kesayangan itu.

Parkir motor di mal itu memang padat. Motor tumpek-ruwek di pelataran yang terletak lebih 20 meter di bawah tanah. Itu pun setelah melewati turunan curam melingkar tanpa petunjuk yang jelas. "Kalau datang siang, jangan harap dapat tempat," kata Jefri, 27 tahun, salah pengunjung.

Motor-motor pun dibebaskan seliweran tanpa harus mematikan mesin. Padahal
karbonmonoksida yang dihasilkan knalpot sangat berbahaya bagi pernafasan. Ditambah lokasi parkir di bawah tanah membuat udara tidak berputar bebas. "Awalnya kami minta matikan, tapi (pengunjung) pada tidak mau," ujar seorang petugas di sana.

Ambassador bukan satu-satunya. Berdasarkan pantauan Tempo terdapat sedikitnya tujuh pusat perbelanjaan Jakarta yang memiliki parkir motor kurang luas atau, kadang, kurang nyaman. Misalnya Sarinah Thamrin.

Sepeda motor dikandangkan di pojok belakang kompleks pertokoan itu, sekitar 150 meter ke pelataran pertokoan. Tidak hanya jauh, tapi juga bau karena berdempetan dengan dua bak truk sampah.

Roxi dan Mangga Dua memiliki masalah yang sama dengan Ambassador: kelebihan muatan. Akibatnya motor harus diparkir nyaris tanpa jarak satu sama lain.

Pertokoan lain memiliki masalah sempitnya lahan parkir. Misalnya Setiabudi Building dan Ratu Plaza. Luas lahannya hanya sekitar 5x20 meter, sehingga puluhan motor harus berjejal.

Setiabudi Building lebih parah karena jalur di parkiran tidak memiliki putaran. Sehingga motor yang tidak mendapat ruang kosong untuk parkir harus mundur untuk keluar. Kalau pun dapat, lagi-lagi, harus berjalan lumayan jauh ke pintu masuk karena parkiran terletak di pojok pertokoan.

Tapi tidak selamanya motor jadi anak tiri. Mal Grand Indonesia menempatkan motor di posisi yang lumayan terhormat. Berlokasi di basement tingkat dua, parkiran motor di sini cukup luas.

Hampir tidak pernah kesulitan mendapat parkiran di sini, bahkan di waktu kunjungan puncak di malam Ahad. Juga dilengkapi pendingin udara dan sistem exhaust yang mumpuni. Tidak terasa pengap atau pun bau asap knalpot di sana.

Seorang pengunjung bahkan rela memarkirkan kuda besinya di Grand Indonesia dan berjalan lebih dari 400 meter ke tujuannya di Plaza Indonesia, yang tidak memiliki lahan parkir. "Daripada harus di parkir liar, (pengelola) tidak jelas dan motor dijejal-jejalin," kata Jimmy, 30 tahun, warga Kelapa Gading.

Ada juga Plaza EX di Jalan MH Thamrin Jakarta Pusat yang memberikan lokasi jempolan bagi pengendara motor. Tempatnya di sisi timur mal mewah itu, tepat di samping pintu masuk dari Jalan Thamrin dan langsung berhadapan dengan lobi pertokoan.

Lapak parkirnya kurang lebih seluas lapangan bola dan mampu menampung 900 unit motor. "Biasanya tidak sampai penuh, kecuali ada event khusus," katanya Syafrudin petugas administrasi Secure Parking, pengelola parkir di sana.

Pengelola juga menyediakan lahan khusus untuk motor berbadan besar. Bukan untuk gaya-gayaan. "Tapi karena butuh space lebih luas," kata Syafrudin.

REZA M