Sepeda Motor/TEMPO/Arif Fadillah
Topik
Trotoar Pun Tergusur Lapak Motor
TEMPO Interaktif, Jakarta - Minimnya fasilitas parkir membuat praktek parkir liar tumbuh bak cendawan di musim hujan. Penyedia jasa parkir modal dengkul itu memanfaatkan tiap jengkal lahan yang ada, mulai dari lahan kosong, trotoar, hingga rumah kosong.
"Kalau tidak ada kita, orang pada mau parkir dimana," kata seorang penjaga parkir di Jalan Kebon Kacang XXX pekan lalu. Lapaknya yang hanya dipisahkan seruas saluran air dari Plaza Indonesia.
Mal di jantung Jakarta itu tadinya menyediakan lahan parkir motor di basement tingkat 2. Namun sejak 2007, kavling yang tadinya dipagar besi itu dilebur jadi arena parkir mobil. "Kami tidak sediakan parkir motor di Plaza Indonesia," ujar Syafrudin, petugas administrasi Secure Parking, pengelola parkir di sana.
Tadinya, lapak parkir di Kebon Kacang hanya diisi satu dua motor yang membeli penganan di kaki lima. Namun sejak ditutupnya parkir motor di Plaza Indonesia, Kebon Kacang XXX berubah jadi layaknya arena parkir motor.
Siang itu terdapat sekitar 500 roda dua terparkir di sana. Berjejalan di sisi timur jalan yang berbatasan dengan anak Kali Malang. Motor terparkir nyaris tanpa jarak hingga empat lajur. Memanfaatkan trotoar dan sebagian badan jalan.
Untuk lebih memudahkan menyelipkan dan keluar masuk masuk, tidak satu pun motor di sana di kunci. "Kita jamin aman, anak-anak sini yang jaga," kata si petugas tanpa seragam itu. Siang itu terlihat sedikitnya lima "anak-anak sini" yang sedang berjaga mengamankan sepeda motor.
Ia juga menunjukkan kelebihan tempat parkirnya. Meski agak mahal, Rp 3.000, tapi tarif flat. "Mau sampai malam kek, tarifnya Rp 3000," dia melanjutkan. Jam operasinya mulai pukul 7 hingga 24. "Kalau karyawan kan kasihan ditagih tarif jam-jaman," ujarnya.
Petugas jalanan itu juga melengkapi diri dengan karcis hijau bertulis Rp 3000 sebagai tanda bukti pembayaran. Jurus itu ampuh untuk meredam pengguna jasa yang protes akan harga.
Dia mengaku tidak tahu menahu perihal aliran uang. "Kita bagi sama-sama," katanya.
Tidak hanya di trotoar, parkiran juga memakan badan jalan di Jalan Kebon Kacang Raya, tepat di seberang Grand Indonesia. Jalur dari Tanah Abang ke Bunderan HI hanya bisa dilalui separuhnya. Sebelah kiri jalur digunakan pedagang kaki lima, sebelah kanan untuk parkir motor. Bahkan sebuah ruang bekas toko seluas 4x5 meter juga di jadikan lahan parkir. Di depannya tertulis, "khusus member".
Di belahan barat Jakarta, parkir liar menjamur di kolong jalan layang Roxi, Jalan
Kiai Tapa, Grogol. Siap menampung limpahan parkir di pertokoan Roxi Mas dan Roxi Square yang selalu berjelal. Motor juga diparkir malang melintang di badan jalan di samping fly-over.
Di Mal Ambassador dan ITC Kuningan, parkir liar berkembang di tengah pemukiman penduduk di Jalan Karang Asem. Tepat di belakang pertokoan yang berlokasi di Jalan Casablanca, Jakarta Selatan itu. Pengunjung bisa mengaksesnya dari Gang Dogol, sebelum Ambassador.
Di kawasan Sudirman Central Business District, parkir liar memanfaatkan lahan-lahan kosong bekas proyek yang mangkrak. Misalnya di dekat Klub Malam Bengkel, di seberang Ducati Indonesia. Puluhan hingga ratusan motor terparkir dibalik pintu seng yang dijaga petugas.
Dengan tarif Rp 3.000, pengguna bisa memarkirkan kendaraannya di sana seharian. "Kebanyakan (pengguna jasa) dari BEI (Bursa Efek Indonesia) sama Pacific Place," kata penjaga di sana.
Perkantoran dan mal itu memang tidak menyediakan lahan parkir untuk motor. Memang ada secuil lahan resmi di samping BEI dan Pacific Place. Lapak yang dikelola First Parking itu menerapkan tarif Rp 1.000 per jam. "Kalau buat orang kantoran yang seharian (parkir), berat," kata penjaga parkir seng.
Para penggiat parker liar ini menolak anggapan kehadiran mereka mengganggu. "Saling bantu aja, kita jagain motornya, sediain tempat, situ bayar," kata juru parkir liar di Kebon Kacang.
REZA M






Web via