foto

Repro: Tempo/Seto Wardhana



Giwo Rubianto Wiyogo Masalah Anak Masih Parsial

TEMPO Interaktif, Berita yang belakangan ini mencuat tentang pemasungan bocah cilik bernama Gia oleh orang tuanya menarik perhatian Giwo Rubianto Wiyogo. Mantan Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia periode 2004-2007 ini tak henti-hentinya mengurut dada sambil menuturkan keprihatinan mendalam.

"Dari tahun ke tahun masalah anak Indonesia selalu muncul dengan berbagai cerita memilukan. Tidak pernah berhenti, selalu saja ada, muncul dengan berbagai persoalan," kata dia ketika ditemui di sebuah acara di kawasan Permata Hijau, Jakarta, beberapa waktu lalu.

"Selama ini permasalahan anak di Indonesia masih parsial, tak mengherankan jika yang begini selalu muncul," kata alumnus sarjana pendidikan IKIP Jakarta itu dengan suara menahan sedih. Permasalahan parsial, menurut wanita berdarah Jawa ini, adalah segala sesuatu yang berurusan dengan persoalan anak Indonesia, mulai masalah, antisipasi, termasuk mencari jalan ke luar dari semua persoalan, masih berjalan sendiri-sendiri dari setiap kebijakan yang dimiliki oleh berbagai lembaga yang mengurusi soal ini.

Seharusnya, kata Giwo, permasalahan anak tidak akan muncul dengan beragam pernik bila hal yang dilontarkannya itu menjadi sebuah pemikiran dan sinergi bersama. Menurut dia, anak-anak merupakan makhluk yang mulia dan sangat polos.

"Mereka punya hak-hak yang harus diperhatikan, seperti hak pendidikan, kesehatan, memperoleh kehidupan layak, keamanan, pola asuh, dan berekreasi. Kita tidak pernah serius duduk bersama. Akhirnya, ya, seperti ini, selalu saja silih-berganti muncul aneka kasus," tutur Giwo, geram.

Sewaktu ia memegang posisi yang punya kaitan dan kedekatan dengan soal ini, ada banyak hal yang ingin dia lakukan untuk meredam atau meminimalisasi permasalahan itu agar tak lagi muncul dan muncul lagi. "Tapi apa daya, yang bisa dilakukan tidak seiring dengan kenyataan," ujar ibu empat anak ini.
Giwo mencontohkan, penanganan untuk anak-anak yang berada di jalan, yang seharusnya mendapat penempatan tepat pada rumah singgah, ternyata penanganannya tidak sesuai dengan standar operasional. "Karena penanganannya terkesan asal. Tidak ada pendampingan intens, serius, dengan empati atau cara holistik yang melibatkan semua lini. Maka beginilah hasilnya," ujarnya sambil menarik napas panjang. | HADRIANI P