Topik
Sektor Infrastruktur Tak Terpengaruh Pasar Bebas ASEAN-Cina
TEMPO Interaktif, Jakarta - Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto mengatakan sektor infrastruktur tidak akan terpengaruh dengan penerapan perdagangan bebas Indonesia-Cina. Hal ini karena peraturan tentang investasi asing di sektor ini tidak mengalami perubahan.
"Sebenarnya (Kementrian) PU sangat konvensional soal investor asing. Kalau ada investor asing yang mau masuk untuk konstruksi kita masih membatasi maksimum 51 persen," katanya di Jakarta, Jum'at (5/3).
Djoko mengakui ia sempat memberikan persetujuan agar investasi asing di sektor konstruksi bisa ditingkatkan sampai maksimal 67 persen. "Karena yang lain-lain sudah sampai 90 persen tapi kita masih tetap tahan," terangnya.
Djoko mengatakan sektor konstruksi tidak bisa lagi menghindar dari perdagangan bebas karena peraturan tentang hal ini sudah ditetapkan. Ia hanya meminta agar kontraktor meningkatkan kemampuan dan profesionalisme mereka supaya bisa bersaing dengan pemain asing.
"Saya sudah bilang ke pemborong bahwa kita tidak bisa lagi menutup pintu. Yang bisa dilakukan adalah meningkatkan kompetensi supaya kalau kontraktor luar masuk justru kontraktor lokal mengalahkan. Malah kalau bisa kita yang keluar," terangnya.
Meski begitu, menurut Djoko, pemerintah akan tetap memberlakukan pembatasan-pembatasan tertentu bagi investor asing yang ingin menggarap proyek lokal. Misalnya pembatasan dalam penggunaan tenaga kerja asing.
Ia mencontohkan pada proyek pembangunan waduk Jatigede di Jawa Barat. Penggunaan tenaga kerja asing dibatasi sampai tenaga menengah saja. Sementara tenaga kerja kasar harus menggunakan tenaga kerja lokal.
Menteri mengatakan hal ini menanggapi kekuatiran banjir tenaga kerja asing asal Cina di sektor konstruksi. "Kalau untuk proyek-proyek pemerintah tentu akan kita tolak," katanya.
Sementara terkait keluhan kontraktor tentang suku bunga yang tinggi, menurutnya kementrian sudah menyampaikan masalah ini ke kementrian keuangan selaku otoritas fiskal. Kontraktor mengeluhkan suku bunga bank yang tinggi sehingga mereka sulit bersaing di luar negeri.
KARTIKA CHANDRA