Foto jenazah yang diduga Dulmatin setelah tertembak.
Topik
Infografis
Al-Chaidar : Yang Tewas Bukan Dul Matin, tapi Umar Patek
TEMPO Interaktif, Banda Aceh - Pengamat Teroris, Al Chaidar mengungkapkan bahwa yang tewas dalam penggerebekan teroris di Pamulang, Tangerang, bukanlah Dulmatin, tetapi Umar Patek.
Hal itu disampaikan Al Chaidar kepada wartawan di lokasi perburuan teroris, Desa Teladan, Kecamatan Lembah Seulawah, Aceh Besar, Selasa (9/3). “Saya coba hubungi beberapa jaringan lama, Jamaah Islamiyah maupun Darul Islam, mereka mengatakan ini bukan Dulmatin,” ujar dia.
Siang tadi, Detasemen Khusus 88 Antiteror menggerebek dua lokasi yang diduga menjadi tempat persembunyian teroris di Pamulang. Lokasi pertama di Warnet Multiplus Jalan Siliwangi. Pada lokasi tersebut, seorang yang diduga tersangka teroris Dulmatin tewas ditembak. Di lokasi yang kedua, di Gang Asem, Jalan Setiabudi, dua orang tewas ditembak.
Menurut Al Chaidar, informasi yang diterimanya lain dengan yang dikeluarkan pihak kepolisian. “Setahu mereka (informannya), Dulmatin masih berada di Filipina.”
Al Chaidar mengatakan ini adalah salah satu jaringan kelompok lama yang masih ada seperti kelompok Pandeglang dan Cilacap, termasuk kelompok juga Labuan.
Dia mengatakan teroris yang ada di Pamulang erat kaitannya dengan kelompok yang ada di Aceh. Dari sanalah, senjata dipasok ke Aceh. Selain itu, kelompok di Pamulang yang dulu mengirimkan beberapa orang termasuk dari Aceh untuk berlatih di Mindanau, Filipina.
Di dalam kelompok di Aceh, ada juga warga setempat tetapi tidak ada hubungannya dengan mantan Gerakan Aceh Merdeka. Banyak di antara mereka yang bertemu di beberapa lembaga pendidikan. “Target kelompok ini menjadikan wilayah Aceh sebagai pusat latihan.”
Al Chaidar menambahkan beberapa target lainnya adalah di Selat Malaka. Kemudian dari pembicaraan pada 2006 dan 2007, kelompok Aceh juga menargetkan tempat orang asing yang sedang ikut rekontruksi pascatsunami. Tapi saat ini, tidak ada lagi orang asing di Aceh.
Kelompok tersebut, kata Al Chaidar, juga tida ada hubungannya dengan kedatangan Presiden Amerika Serikat Barack Obama ke Indonesia. “Mereka tidak begitu update dengan rencana kedatangan Obama ke Indonesia”
Dijadikannya Aceh sebagai tempat latihan dan target, karena dianggap Aceh sebagai wilayah paling barat dan strategis. Bila terjadi apa-apa, memudahkan mereka untuk lari ke Malaysia maupun ke Thailand. Mereka diyakini memiliki jaringan di bagian selatan Thailand.
Keberadaan kelompok di Aceh, didukung oleh jaringan al-Qaidah. Biasanya dalam setiap latihan, ada utusan satu atau dua orang dari al-Qaidah untuk memantau. “Biasanya latihan sebagai awal untuk mendapatkan dana dari al-Qaidah pusat,” kata Al Chaidar.
Dia menyakini kelompok di Aceh dipimpin Abu Saifudin. “Dia belum bisa bahasa Aceh dan belum mengenal Aceh lebih baik, juga wilayah-wilayah di Aceh.”
ADI WARSIDI
Web via