foto

Polisi berjaga-jaga di depan ruko Multiplus, Pamulang, tempat ditembaknya Dul Matin (9/3. Reuters



Polisi Incar Dulmatin Dua Malam Sebelum Penggerebekan

TEMPO Interaktif, Jakarta - Kepolisian mengintai keberadaan tersangka teroris di Pamulang, Banten, sejak dua malam sebelum penggerebekan.

"Ada mobil boks muter-muter di sini," ujar Junaidin, 38 tahun, sopir Koperasi Taksi yang mangkal di depan komplek rumah toko Puri Pamulang, Rabu (10/3).

Mobil itu, dia melanjutkan, mulai muncul Ahad malam. "Besok malemnya datang lagi," katanya. Tidak terlihat aktivitas mencolok di dalam Mitsubishi bercat hitam dan boks abu-abu itu. "Kacanya gelap, tidak kelihatan isinya," kata Junaidin.

Mobil itu terlihat berjalan pelan saat melintasi warung internet Multiplus dan parkir mengarah ke warnet. Junaidi cs curiga mereka polisi. "Sempet takut juga karena kami nongkrong sambil main kartu," katanya.

Senin malam, seorang penumpang mobil boks itu sempat turun dan membeli rokok di warung. "Tapi tidak ngomong apa-apa," kata Yayuk, penjaga warung.

Mobil yang sama kembali muncul kemarin siang, sekitar 11.15. Kali ini tidak sendirian. Ada Mitsubishi Elf dan Avanza hitam bersama mereka. Jumadin mengisahkan, seorang pria turun dari Avanza dan masuk sendirian ke warnet Multiplus. Setelah itu masuk tiga orang berpakaian preman namun mengenakan rompi antipeluru. Semuanya membawa tiga senjata: pistol di paha dan pinggang, serta senapan laras panjang.

"Terdengar tembakan," katanya. Setelah itu serombongan pria turun dari kotak mobil boks.

Pengintaian petugas di mobil boks itu berujung dengan tewasnya Dulmatin alias Joko Pitono. Pria asal Pemalang Jawa Tengah ini dicari kepolisian berbagai negara sejak delapan tahun lalu karena terlibat dalam pengeboman di Kuta, Bali. Dia tertembak di lantai dua bilik sembilan warung internet itu, dengan menggenggam sepucuk revolver.


REZA M