foto

Kilang Gas/TEMPO/ Amston Probel



Kementerian Energi Beri Sinyal Impor Atasi Krisis Gas

TEMPO Interaktif, Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memberikan sinyal akan mengimpor gas untuk mengatasi kisruh pemangkasan alokasi gas untuk industri. "Kalau kita masih kurang (gas) dan harganya bagus, kita dimungkinkan untuk impor," ujar Menteri Energi Darwin Zahedy Saleh di Jakarta, Rabu (10/2).

Darwin mengulang pernyataan tersebut hingga dua kali, namun ia mengelak memastikan apakah kebijakan impor gas benar-benar akan diambil untuk menyelesaikan persoalan ini. "Saya enggak ngomong impor, itu kamu yang ngomong," katanya pada wartawan ketika ia didesak.

Mengenai alokasi gas, Darwin menyatakan saat ini Kementerian Energi tetap akan memberi prioritas pada ketersediaan energi dan pupuk. "Kita dalam posisi menjalankan kelanjutan setting lokasi gas yang berjalan sejak lama," ujarnya. "Yang jelas Kementerian memperketat pemetaan pasokan dan permintaan, dan prioritas yang harus didahulukan."

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Evita Herawati Legowo mengatakan pihaknya telah memiliki solusi mengenai masalah ini, namun ia belum bisa membeberkan hal itu. "Nanti, tunggu Bapak Darwin yang bicara," ujarnya. "Ini penyelesaian jangka pendek. Lihat saja April nanti."

Sebelumnya, pemerintah bakal mengurangi alokasi gas untuk sektor industri. Hal ini ditentang oleh kalangan pengusaha, terutama industri keramik yang produksinya sangat bergantung pada ketersediaan gas. Pengusaha mengancam akan memberhentikan sebagian karyawan sebagai alternatif menghemat biaya.

RATNANING ASIH