Prestasi Emas Ahli Bedah Saraf Asal Klaten

TEMPO Interaktif, Jakarta - Selama ini ada kesan dokter-dokter di luar negeri selalu menjadi rujukan orang-orang berduit di tanah air. Ternyata hal itu tak sepenuhnya benar. Setidaknya, dua perempuan asal Amerika Serikat dan Belanda yang mengalami gangguan saraf pada bagian lehernya justru meminta Dr Eka Julianta Wahjoepramono untuk mengoperasinya.

Nama Eka sangat termasyhur di dunia kedokteran, khususnya sebagai ahli bedah saraf. Ia telah melakukan sekitar 600 operasi otak, dan 23 kasus di antaranya adalah pembedahan batang otak. Operasi jenis ini tergolong amat langka, rumit, dan berisiko fatal.

Kepiawaian Eka, yang kini menjadi Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan, membuat dirinya kerap diundang menjadi pembicara tamu di kampus-kampus ternama dunia. Lelaki kelahiran 27 Juli 1958 di Klaten itu antara lain menjadi guru besar tamu di Harvard Medical School dan University of Arkansas for Medical Sciences.

Semua prestasi Eka itu tertuang dalam biografi bertajuk: Tinta Emas di Kanvas Dunia. Buku setebal 193 halaman yang diterbitkan Kompas-Gramedia ini ditulis oleh wartawan senior Pitan Daslani.

Melalui buku ini juga tergambar, bahwa kecerdasan bukanlah segalanya. Dr Hawa Mustika, teman sekolah Eka sejak SD hingga di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, menilai prestasi akademik Eka biasa saja, tak terlalu menonjol. Namun, mimpi, kerja keras, dan ketekunan mampu membuat apapun yang mustahil menjadi kenyataan. Eka yang ketika lahir diberi nama Tjioe Tjay Kian membuktikan hal itu. SUDRAJAT