foto

Pengisian nada dering di toko musik. (TEMPO/Nickmatulhuda)



Nada Sambung Masih Jadi Darah Musisi  

TEMPO Interaktif, Bandung - Nada sambung atau ring back tone masih menjadi penghasilan utama para musisi, selain pentas langsung di hadapan ribuan penonton, karena royalti dari kaset dan cakram padat (CD) terus turun akibat pembajakan. "Walaupun hasilnya kecil, tapi nada sambung ini masih menjanjikan bagi musisi." kata Armand Maulana, vokalis grup band Gigi, di belakang panggung acara Kampung GaSS (Gabungan Aktris dan Seniman Sunda) di lapangan Gasibu, Bandung, hari ini.

Walaupun saat ini musisi dan manajemen cuma mendapat sekitar 50 persen dari nilai kontrak nada sambung, tapi hadirnya telepon genggam murah di pasaran membuat pelanggan nada sambung meningkat. Namun, "Karena ini teknologi, nada sambung mungkin suatu saat juga bisa juga dibajak. Tapi, mudah mudahan tidak," kata Armand.

Suami Dewi Gita ini menuturkan, sangat sulit bagi musisi untuk mengharapkan penghasilan dari CD dan kaset yang pembajakannya sudah sangat tinggi. "Kalau mau go internasional pun sangat sulit, karena kalau mau terkenal di luar harus pindah warga negara. Kecuali di regional Asia, musisi Indonesia masih punya nama di kawasan ini," kata Armand.

Ia menyatakan, konser saat ini menjadi rebutan para musisi. Paling tidak mereka harus punya hit single yang menggebrak dan dinikmati telinga. "Bayangkan saja, saat ini hampir 10 band baru muncul, walaupun pasar musik terus naik, tapi band perlu punya hits agar bisa naik ke panggung," katanya.

ALWAN RIDHA RAMDANI