Love Never Die
Topik
Sekuel Phantom of the Opera Dirilis di London
TEMPO Interaktif, Jakarta -
Love Never Dies mendapat sambutan meriah dari penonton yang menyaksikan pertujukan perdananya di London, Inggris, Selasa (9/3), waktu setempat. Sambil berdiri, para penonton sekuel Phantom of the Opera itu memberikan tepukan panjang di akhir pertunjukan yang dibintangi Michael Caine, Rowan Atkinson dan penyanyi Elaine Paige.
Phantom Of The Opera adalah sebuah lakon kolosal tentang Phantom, “malaikat musik” misterius yang tinggal dibawah Gedung Opera Paris. Phantom yang memiliki cacat fisik jatuh cinta kepada penyanyi muda Christine Daae, dan ingin menjadikannya seorang bintang opera baru. Namun pada saat yang sama Phantom juga meneror penghuni Opera House tersebut.
Drama musikal garapan Andrew Llyod Webber ini telah ditonton lebih dari 100 juta orang di seluruh dunia sejak dirilis pada 1986. Phantom hingga saat ini masih dipertunjukan di London dan New York. Sebagai pertunjukan musik broadway yang paling lama digelar, Phantom of the Opera menerima 50 penghargaan Theater penting, termasuk tujuh New York Tony Awards bergengsi, tujuh drama desk awards dan tiga Olivier awards
Phantom of the Opera telah menghasilkan lebih dari U$5 miliar dan menjadi pertunjukan musik tersukses didunia dan juga tersukses diantara karya Lloyd-Webber lainnya. Filmnya juga mengguncang penggemar film bioskop diseluruh dunia dan sebuah bioskop yang baru dibuka di Las Vegas terus-menerus memikat penonton.
Sekuelnya, Love Never Dies mengambil set satu dekade setelah akhir cerita aslinya pada 1907. Love Never Dies yang juga digarap oleh Andrew Llyod Webber itu menceritakan tokoh jenius Phantom pindah dari tempat persembunyiannya di bawah gedung opera Paris ke Pulau Coney , New York, yang gemerlap, dan masih tergila-gila pada Christine.
Banyak penggemar Phantom yang memberi komentar terhadap pertunjukan itu di internet. Beberapa mengatakan ilustrasi musik (score) yang disajikan sama sekali tak mampu menyaingi Phantom of the Opera seperti The Music of the Night dan All I Ask of You. Kritik juga banyak diberikan penggemar terhadap tata panggung pertunjukan tersebut yang dinilai kalah bersaing dengan Phantom.
Llyod Webber sendiri mengaku tak terlampau peduli dengan kritik . “Rabu lalu saya menonoton pertunjukan itu untuk pertama kalinya dan kamu tahu apa yang saya pikirkan? Love Never Dies benar-benar sebuah pertunjukan yang bagus,” kata sang komposer seraya menyebutkan penilaian negatif terhadap karyanya itu hanya datang dari tiga atau empat orang saja yang menulis di internet.
Nunuy Nurhayati (AP/abcnews)