foto

Patung Obama di atas becak karya Wilman Sjahnur dalam art festival di Plaza Indonesia, Jakarta. TEMPO/Novi Kartika



Menyuguhkan Seni Rupa di Mal  

TEMPO Interaktif, Kuda besar melayang di antara dua pilar. Moncongnya menganga memperlihatkan barisan gigi putih. Ia bersayap kotak bak sebuah pesawat komersial. Di dalamnya muncul seorang pilot kecil mengendarai kuda itu. Di bagian pantatnya terpasang alat pemutar mirip mainan mekanis. Di bawahnya terpasang kertas merah, banderol harga.

Begitu masuk pintu utara Plaza Indonesia, Jakarta, akan tampak kuda itu. Agent of Change karya Heri Dono ini adalah satu di antara 21 karya seni rupa yang terpajang di setiap sudut strategis mal di Jalan M.H. Thamrin tersebut. Sepanjang Maret ini, sebuah pameran seni rupa bertajuk Art Festival digelar sebagai perayaan 20 tahun berdirinya mal mewah itu.

Heri Dono mencipta seekor kuda yang dibentuk oleh imajinasinya sendiri. Kuda yang tak lazim. Heri menggambarkan makhluk hidup yang mekanis. Dalam beberapa kebudayaan, kuda melambangkan kesuksesan dan kemakmuran.

Karya lain yang sangat menarik adalah patung Presiden Amerika Serikat Barack Obama. Sang presiden berpose tengah naik becak seraya tersenyum dan menyilangkan kakinya. Karya instalasi berjudul Greeting tersebut merupakan kreasi Wilman Sjahnur. Sebelumnya, karya instalasi yang terbuat dari resin itu pernah dipamerkan dalam perhelatan Biennale Jogja X pada akhir tahun lalu.

Menurut Wilman, Obama karyanya itu pernah luka parah karena terjungkal dari becak tersebut. Kaki kanannya patah. Begitu pula pergelangan kaki kirinya. Tangan kanan yang dipakai untuk mengacungkan tanda kemenangan, “V”, juga patah sebatas bahu. Meski begitu, Obama tetap tersenyum.

Kecelakaan itu terjadi ketika patung instalasi tersebut diusung dalam diskusi sebagai rangkaian Biennale Jogja. Becak yang dikendarai sendiri oleh Wilman saat itu oleng dan Obama terpelanting. Namun Wilman tak patah arang. Ia segera membawa Obama ke “ICU” untuk diperbaiki. Dan kini patung Obama kembali nampang dengan senyum lebarnya di Plaza Indonesia.

Dalam usianya yang ke-20, mal di jantung Jakarta itu memang telah berubah. Kini ia jauh lebih mewah, lebih besar dan dilengkapi segala macam fasilitas, serta menjadi tempat yang nyaman buat jalan-jalan. Suguhan karya-karya instalasi yang dipajang di mal tersebut kian menambah daya tarik tersendiri dan cukup menghibur para pengunjung.

Coba simak karya instalasi berupa bola-bola plastik berwarna-warni yang dikumpulkan lalu dibentuk menjadi mobil. Karya Arya Pandjalu berjudul The Kiss itu adalah bentukan benda yang dimaknai sebagai pembuat rasa senang. Bola berwarna-warni adalah mainan anak-anak. Karya ini hendak mengatakan bahwa mal dengan segala fasilitasnya memberikan kenyamanan tak hanya bagi orang dewasa, tapi juga anak-anak.

Lain halnya dengan Irawan Karseno. Lewat karya bertajuk Pulse 2010, dia mencoba memvisualisasikan betapa benda yang bernama tas sangat berperan penting bagi individu. Tas-tas itu berserakan di lantai. Tidak lagi cantik, melainkan sudah dibalut kain perban. Di atasnya berjejer botol infus dengan pipa kecil yang dimasukkan ke dalam tas. Menurut Irawan, tas bukan sekadar mode, tapi juga berperan membawa dan menyimpan segala macam hal. Bahkan, jika kehilangan tas, diri kita seperti kehilangan separuh jiwa.

Karya Benny Messa berjudul High Spirits bisa menjadi bahan renungan. Instalasi bayi beruang yang sedang mengangkat pisang ala supermarket berlabel made in China menandakan kesiap-siagaan atas datangnya pasar bebas.

Masih banyak karya seni rupa lainnya yang juga menarik. Ambil contoh Yani Halim, dengan patung manusia berbaju kelinci. Lalu perupa Ichwan Noor dengan baju besinya atau Gusman Heriadi dengan kaki raksasanya.

Karya-karya para perupa itu menjadi kian menarik karena dipamerkan di dalam mal, bukan di galeri-galeri seni seperti lazimnya. Boleh dibilang, menggelar pameran seni rupa di mal merupakan sesuatu yang baru. Yang jelas, kehadiran karya seni rupa di mal setidaknya memperluas akses publik untuk menikmati karya-karya tersebut. Orang-orang yang tadinya belum pernah bersinggungan dengan seni rupa secara otomatis akan melihatnya, karena karya-karya itu dipamerkan di ruang publik, seperti mal.

Ismi Wahid