foto

Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri dalam konferensi pers menunjukan wajah yang dipastikan sebagai Dulmatin, Jakarta, Rabu (10/03). TEMPO/Aditia Noviansyah



Dulmatin Tewas Meninggalkan Utang Rp 70 Ribu

TEMPO Interaktif, Jakarta - Tersangka teroris yang tewas di Pamulang, Dulmatin alias Joko Pitono, ternyata masih meninggalkan utang Rp 70 ribu. Awal Januari lalu, teroris yang dinyatakan buron sejak delapan tahun lalu ini pernah memesan sembilan tas ransel.

Dia meminta tetangganya di RT4 RW4 Kelurahan Pinang Benda, Pamulang, membuat ransel besar dengan bahan kain mirip tas tentara berwarna hijau. Selain tahan banting, tas juga didesain memiliki banyak kantung layaknya ransel untuk tentara. Satu tas dipatok harga Rp 60 ribu.

"Bilangnya buat dia dan teman-temannya kemping," kata Teguh Wiyono, 39 tahun. Pesanan terakhir diambil orang suruhan Yahya di rumah Teguh bulan lalu. Bayarannya kurang Rp 70 ribu. Dia janji akan melunasi pembayaran itu. Namun Detasemen Khusus Antiteror 88 memberondongnya dengan peluru Selasa (9/3) di warnet ruko Multiplus, Pamulang, Tangerang, Banten.

Teguh sempat curiga dengan pesanan tetangga se-RT-nya itu. Pasalnya, warga setempat tidak tahu latar belakang warga yang mengaku bernama Yahya Ibrahim itu. "Cuma tahu kerja jual-beli mobil di Ciputat," katanya.

Terlebih, rumah kontrakan Yahya di Gang Salak 5 kerap dikunjungi tamu bergamis dari luar lingkungan itu. Namun, pertanyaan-pertanyaan Teguh selalu diacuhkan Yahya. "Orangnya ga banyak omong," katanya.

Namun dari satu percakapan, tersirat Yahya memiliki banyak pengikut. "Yahya sempat bilang, kalau tasnya bagus, akan pesan lagi, 'orang saya banyak'," kata Teguh.

Tapi jangankan memesan tas lagi, melunasi utang Rp 70 ribu pun tak sempat dilakukan Dulmatin. Maut lebih cepat menjemputnya. Untung pengusaha konveksi itu akhirnya merelakan piutangnya. "Ya saya ikhlasin saja," kata Teguh..


REZA M