foto

Fitness anak di Kidzania, Jakarta.



Latihan Beban buat Jagoan

TEMPO Interaktif,  Rakha, 10 tahun, gemar sekali olahraga berlari dan berenang. Katanya untuk melatih kecepatan saat dia bermain futsal ataupun bulu tangkis. Anak kelas V Sekolah Dasar Negeri 01 Pondok Labu, Jakarta Selatan, ini juga terobsesi memiliki badan berotot. "Biar macho mas," ujarnya.

Untuk itu, dia datang ke Kidzania, Pacific Place, bilangan SCBD, Jakarta Selatan, saat peluncuran pusat kebugaran khusus anak bernama Madurasa Sports Gymnasium. Di tempat ini, Rakha melakukan latihan beban dan olahraga dengan porsi seusianya. Dia diberi pengarahan oleh Zupervisor, sebutan instruktur di sana. Sebelumnya, Rakha di-body scan--alat penimbang tinggi dan berat badan--sebagai patokan untuk membentuk tubuh ideal. 

Tempat fitness anak ini, seperti dikatakan Zupervisor Madurasa Sports Gymnasium, Andika Yulia Sinta, memang mirip dengan gym orang dewasa. Ada sepeda statis, katrol, barbel, dumbell, serta treadmill. Namun, kata Andika, di sini juga banyak alat permainannya. "Seperti swiss ball (bola fitness), dance flat, dan samsak," ujarnya kepada Tempo saat peluncuran pekan lalu.

Latihan beban, menurut fitness motivator dari pusat kebugaran Rai Fitness, Adrian Maulana, pada dasarnya untuk siapa saja, termasuk anak-anak. Menurut dia, gerakan paling bagus untuk anak adalah latihan peregangan. "Karena peregangan membantu menstimulasi otot berkembang dan menjaga tulang anak tumbuh dengan baik," ujar Adrian dalam kesempatan yang sama.

Si anak disarankan menggunakan alat beban yang ringan atau sifatnya lebih pada peregangan saja. Sebut saja bola fitness, yang bisa melatih peregangan, kelenturan, dan keseimbangan. Jika si anak mau membentuk otot, seperti six pack, kata bintang sinetron ini, sebenarnya sah-sah saja. 

Sebab, pada dasarnya otot perut dimiliki semua orang. Biasanya, anak kecil memang sulit membentuk otot ini karena belum terstimulasi dan tertutup oleh cadangan lemak yang ada di perut. Namun, sepengetahuan dia, ada beberapa anak belia di bawah 12 tahun yang sudah terlihat garis otot di perutnya.

Hal itu, kata Adrian, justru bagus. Sebab, si anak tentunya menerapkan pola hidup sehat yang baik, karena sejak dini sudah bisa memiliki otot seperti itu. Yang penting bentuk gerakannya jangan sampai menghambat pertumbuhannya. "Seperti gerakan menggunakan beban-beban yang terlalu berat."

Selain itu, Adrian memberi saran agar anak diberi pilihan dengan olahraga di luar ruangan. Misalkan olahraga permainan, bersepeda, atau berenang. Gym ini cuma alternatif apabila anak jenuh melakukan aktivitas di luar ruangan.

Dari segi medis, spesialis kedokteran olahraga, Dr Suharto DPH, SpKO, sebenarnya tidak terlalu menyarankan anak melakukan fitness, kecuali dengan pengawasan ketat. Senada dengan Adrian, Suharto melarang latihan beban yang mengganggu otot panjang si anak, sehingga mengganggu pertumbuhannya. "Nanti si anak malah jadi awet kecil karena tidak tumbuh," ujarnya via telepon kemarin sore.

Sejatinya, anak di bawah 12 tahun itu, menurut magister Public Health Universitas London, Inggris, ini, cukup diajari pendidikan jasmani saja. Pendidikan ini meliputi gerak dasar, sportivitas, dan aturan main. Nah, latihan fisik anak itu diarahkan ke tiga prinsip tersebut. "Ketiganya itu adalah the total skill." 

Yang pasti, untuk membentuk badan ideal anak, memang tidak selalu dengan latihan beban. Ada beberapa kaidah penting yang disampaikan Adrian. Pertama, asupan gizi seimbang, olahraga teratur, dan istirahat cukup. "Jangan memforsir anak dengan banyak les, sehingga anak jadi kurang gerak," katanya.

Kedua, upayakan agar anak melakukan aktivitas gerak setiap hari. Anak jangan dibiarkan terus di belakang meja untuk belajar. Berikan kebebasan terhadap anak, jangan dibiarkan statis, yang menyebabkan dia menjadi gemuk. "Buat apa kalau dia pintar di pelajaran tapi fisiknya mengalami kelemahan," Adrian menekankan.

HERU TRIYONO