foto

Muhammad Syafii Maarif


Topik


Film tentang Sang Pluralis  

TEMPO Interaktif, Berangkat dari kecintaannya kepada Ahmad Syafii Maarif, sineas Damien Dematra mengangkat kisah hidup mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu ke layar lebar. Bertajuk Si Anak Kampoeng, film yang mulai syuting kemarin itu sepenuhnya disponsori oleh Maarif Institute.

Menurut Damien, ia tertarik memfilmkan tokoh Muhammadiyah tersebut karena kisah hidupnya sangat menarik. “Dalam diri Buya Syafii berpadu kesahajaan, ketulusan, serta konsistensi antara kata dan perbuatan serta sikap egaliter dan pluralis,” katanya dalam jumpa pers beberapa waktu lalu.

Dalam jumpa pers tersebut, Syafii Maarif didampingi sejumlah tokoh agama lainnya. Di antaranya guru besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Franz Magnis-Suseno; Ketua Konferensi Wali Gereja Indonesia Julius Kardinal Darmaatmadja, SJ; dan Ketua Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia Budi S. Tanuwijaya.

Film tentang kehidupan Syafii, yang dikenal sebagai tokoh pluralis, akan dibuat menjadi tiga seri. Film pertama berupa film dokumenter tentang kegiatan Syafii. Dua film lainnya bercerita tentang kisah hidup Syafii dari tanah kelahiran, merantau dan belajar di Yogyakarta, hingga kehidupan di Chicago, Amerika Serikat, serta sesudahnya. Ketiga seri film tersebut didasarkan pada novel-novel tentang kisah hidup Syafii karya Damien Dematra. “Akan ada lima seri novel yang diedarkan,” kata Damien.

Film pertama akan berisi kisah-kisah sang tokoh dalam novel pertama berjudul Si Anak Kampoeng. “Film pertama ini berkisah tentang bagaimana Buya Syafii dari seorang yang mendambakan negara Islam berubah menjadi pejuang pluralisme,” ujarnya.

Lalu film kedua bakal berisi kisah yang diangkat dari novel kedua (Si Anak Kampoeng Si Anak Panah) dan ketiga (Si Anak Kampoeng di Negeri Kisar). Adapun film ketiga merupakan adaptasi dari novel keempat (Si Anak Kampoeng Jadi Profesor) dan kelima (Si Anak Kampoeng Sang Guru Bangsa).

Damien menyatakan Syafii sendiri akan terjun langsung terlibat dalam penggarapan film tersebut. “Beliau akan berperan menjadi dirinya di usia senja, dan akan muncul dalam syuting di kediamannya di Yogyakarta,” katanya. Adapun untuk pemeran lainnya, Damien telah membidik dua aktor tenar, seperti Lukman Sardi dan Restu Sinaga.

Untuk lokasi syuting film pertama, tutur Damien, akan berpusat di Sijunjung, Sumatera Barat, dan Puncak, Bogor, Jawa Barat. “Susah mencari lokasi nagari (desa) yang berlatar nagari Minang tahun 1940-an,” ujarnya saat dihubungi Tempo. Syuting dalam beberapa hari ini akan menjadi bagian utama dari thriller film Si Anak Kampoeng. Syuting keseluruhan akan dilakukan pada Mei mendatang.

Rencananya, film yang menelan biaya sekitar Rp 4,5 miliar itu bakal dirilis perdana pada Muktamar Muhammadiyah di Yogyakarta pada 3 Juli mendatang. “Sedangkan untuk pemutaran di bioskop rencananya pada September 2010,” kata Damien.

Meski diputar secara komersial, Damien menegaskan bahwa film ini tidak bertujuan seperti itu. Hasil dari pemutaran akan disalurkan untuk membuat kopi DVD film ini sebanyak 15 ribu keping. “DVD tersebut akan menjadi sarana edukasi dan disebarkan ke sekolah-sekolah serta institusi keagamaan, seperti Muhammadiyah, sekolah Katolik, dan Buddha.”

Aguslia Hidayah