Topik
Bekas Kolam Pemandian Bangsawan Majapahit Ditemukan di Trowulan
TEMPO Interaktif, Jakarta - Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Timur menemukan situs baru berupa sebuah kolam pemandian di ladang milik seorang warga Dusun Nglinguk, Desa Nglinguk, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. “Kalau dilihat dari bentuknya, sepertinya itu (situs) kolam pemandian bangsawan kerajaan Majapahit,” kata Prapto Saptono, Kepala Seksi Pelestarian dan Pemanfaatan BP3 Kamis siang ini.
Temuan situs baru itu berjarak sekitar setengah kilometer dari Pusat Informasi Majapahit. Dari hasil data sementara diketahui, ukuran kolam sekitar 6x7 meter. Kolam dikelilingi tumpukan batu bata halus. Kedalaman kolam diperkirakan 2,5 meter. BP3 belum bisa melakukan penelitian lebih lanjut karena kolam itu dipenuhi air hujan, sehingga pintu masuk dan dasar kolam sama sekali tak nampak.
Balai Pelestarian memperkirakan situs kolam tersebut sebagai kolam penting kala itu. Dilihat dari desain tumpukan bata yang mengelilingi kolam, juga pintu masuk yang berundak, jelas menggambarkan jika kolam itu dianggap suci oleh masyarakat setempat. Besar kemungkinan, selain dijadikan tempat pemandian, kolam juga dijadikan tempat upacara keagamaan.
Situs kolam itu juga mirip dengan situs kolam pemandian raja-raja hasil temuan Balai Pelestarian di Watu Gede, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Bedanya, ukuran kolam pemandian di Watu Gede lebih besar, yakni 10x20 meter. “Bentuknya sama, hanya situs ini terpendam, sementara yang di Watu Gede ditemukan utuh,” ujar Prapto.
Situs kolam di Ngulik itu ditemukan oleh pemilik ladang, Ruskan. Ladang berada persis di belakang rumahnya, berjarak sekitar 20 meter. Lelaki 60 tahunan itu meyatakan telah menemukan situs itu sejak puluhan tahun silam. Ruskan tak melaporkan temuan situs itu ke Balai Pelestarian karena dianggap bangunan tak penting. “Saya tidak sengaja, pas menggali tanah ternyata ada tumpukkan bata mirip bangunan,” katanya sambil menunjuk susunan batu bata.
Hari demi hari, Ruskan bersama keluarganya terus melakukan penggalian hingga bangunan kolam nampak separo. Ia melakukan penggalian selama bertahun-tahun lamanya, hingga akhirnya ia merasa temuannya itu penting, lalu melaporkanya kepada Balai Pelestarian pada Januari lalu.
Muhammad Taufik