foto

Frans Magnis Suseno


Topik


Ruang Bagi Pemikiran Kiri  

TEMPO Interaktif, Jakarta - Bagaimana kehidupan pemikiran Kiri sekarang dan prospeknya di masa depan? Benarkah pengaruh pemikiran Kiri saat ini hanya beredar di kalangan terbatas, seperti akademisi, gerakan elit, atau mereka yang berusaha menawarkan pemikiran alternatif di tengah dominasi kapitalisme?

 

Sederet pertanyaan itual yang boleh dibilang menjadi latar belakang digelarnya sebuah diskusi bertajuk “Masa Depan Pemikiran Kiri di Indonesia” di Komunitas Salihara, Pasar Minggu, Jakarta, pada Rabu malam kemarin. Diskusi yang dipandu oleh Trisno S. Sutanto itu menghadirkan pembicara Guru Besar Filsafat Franz Magnis-Suseno dan Sejarawan Hilmar Farid.

 

Franz Magnis menyatakan, pemikiran Kiri mengalami krisis setelah ambruknya komunisme. Kehancuran Partai Komunis Indonesia pada masa Orde Baru menjadi titik hancurnya aliran Kiri di tanah air. Ditambah lagi dengan kian berkembangnya kapitalisme di sejumlah negara, termasuk Indonesia. Boleh dibilang, “Pemikiran Kiri sedang mengalami krisis. Akan tetapi pemikiran Kiri belum selesai (mati),” katanya.

 

Tidak berkembangnya pemikiran Kiri, tutur Franz Magnis, disebabkan oleh para pemimpin gerakan kiri yang kurang melihat permasalahan ke depan. “Terkesan tak ada upaya kreatif oleh para penganut Kiri,” ujarnya.

 

Meski begitu, Franz Magnis menambahkan, sampai kini pemikiran Kiri masih sangat hidup meski dalam bentuk yang berbeda-beda. “Walaupun kini tengah merambah dalam bentuk lain, gerakan Kiri belum berhasil muncul ke permukaan.”

 

Sejarawan Hilmar Farid dalam makalahnya menjelaskan bahwa sejak 1920-an gerakan nasionalis didominasi Kiri. Semua pemerintahan, sejak proklamasi kemerdekaan hingga penyerahan kedaulatan didominasi oleh pemikiran Kiri.

 

Sepanjang 1950 – 1960, gerakan Kiri mendominasi dalam bentuk paling terorganisir melalui Partai Komunis Indonesia. Menurut Hilmar, ciri penting Kiri di Indonesia adalah organisasi massa yang lebih dari sekadar kelompok pemikiran atau sejenisnya.

 

Lebih jauh, Hilmar menambahkan, saat ini masih ada ruang bagi gerakan Kiri untuk dapat muncul kembali ke permukaan. “Pemikiran Kiri saat ini masih sangat hidup, hanya bentuknya saja yang berbeda,” katanya.

 

Menurut Hilamr, tantangannya saat ini adalah bagaimana gerakan Kiri membuat terobosan untuk memecahkan masalah yang selama ini menjadi tuntutan masyarakat: kesejahteraan rakyat.

 

 

Herry Fitriadi