Kelanjutan Proyek Donggi Sebaiknya Segera Diputuskan
TEMPO Interaktif, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Darwin Zahedy Saleh menilai keputusan kelanjutan proyek lapangan gas Donggi-Senoro harus segera dilakukan. "Kami ini memproduksi gas lebih banyak dan tepat waktu karena pada 2013-2014 Asia Pasifik akan mengalami kelebihan pasokan gas," ujarnya di Jakarta, Jumat (12/3) di Jakarta.
Australia dan Qatar, menurut Darwin, akan menjadi negara pemasok gas terbesar di dunia. Donggi-Senoro, Darwin melanjutkan, merupakan lapangan yang marginal dengan skala yang tanggung atau kecil. "Kita jangan terus terjebak dalam dikotomi apakah gas Donggi-Senoro untuk pasokan dalam negeri atau ekspor," katanya.
Ia memastikan pemerintah akan melihat keekonomian proyek ini secara proporsional. Namun, alokasi untuk kebutuhan domestik jadi pertimbangan utama. Proyek Donggi-Senoro sampai sekarang masih terkendala karena pemerintah ingin sebagian dari pasokan gas ditujukan untuk domestik.
Perusahaan domestik yang berminat membeli gas ini adalah Pupuk Sriwijaya (91 MMSCFD/juta standar kaki kubik per hari), PLN (50 MMSCFD), dan Panca Amara Utama (70 MMSCFD).
Sementara menurut konsorsium Donggi-Senoro (Pertamina-Medco-Mitsubishi), keekonomian proyek baru bisa tercapai jika alokasi gas domestik sekitar 70 MMSCFD. Sisa gas sebesar 335 MMSCFD akan diekspor ke Jepang dengan harga gas US$ 6,16 per MMBTU.
Darwin mengatakan Departemen Energi telah memberikan masukan soal porsi domestik dan ekspor yang tepat untuk proyek itu. Namun, ia enggan menyebutkan detailnya. "Sudah kami serahkan hasilnya ke Menteri Koordinator Perekonomian (Hatta Rajasa)," tuturnya.
SORTA TOBING
Web via