foto

Peluncuran komik Wayang Purwa. (TEMPO/Jacky Rachmadiyansyah)


Topik


Komik Wayang Asli Indonesia Dicetak Lagi

TEMPO Interaktif, Jakarta - Alkisah, terjadi pertempuran hidup dan mati antara pasangan Subali-Sugriwa, dengan Lembusura-Maesura di Goa Kiskenda. Mereka bertarung untuk memperebutkan Dewi Tara, yang sebelumnya diculik oleh Maesura. Siapa pemenangnya?

Lanjutan kisah ini dimuat di komik Wayang Purwa garapan Saleh Ardisoma yang terbit pada 1956. Komik ini, oleh Penerbit Pluz kemudian dicetak lagi, dan diperbaiki kualitas gambar dan kertasnya. “Ini komik nostalgia yang cocok dimiliki para kolektor,” kata Andy Wijaya, perwakilan penerbit, dalam acara peluncuran komik itu di sebuah mal Jakarta Pusat, Jumat (12/3) sore tadi.

Komik ini dicetak dalam dua jilid, yaitu Wayang Purwa 1 dan Wayang Purwa 2. Meski ada dua versi sampul dan bentuk berbeda, namun isinya tetap sama. Dijual dengan harga Rp 69 ribu perbuku. Coretan warna hitam putih masih tetap dipertahankan agar tidak mengubah ciri khas pembuatnya. “Karya Saleh Ardisoma masih yang terbaik, coretannya indah” kata Andy.

Wayang Purwa adalah cerita asli perwayangan Indonesia. Purwa yang berasal dari bahasa Sansekerta berarti permulaan atau awal. Maka komik ini menceritakan awal silsilah tokoh perwayangan khas Indonesia. Yaitu saat lahirnya Sanghyang Ismaya (Semar), Sanghyang Antaga (Togog), hingga kelahiran para dewi-dewi di Istana Jongring Salaka, dan tokoh lainnya.

MUSTAFA SILALAHI