Adam Makowicz (TEMPO/Novi Kartika)
Topik
Pianis Polandia Adam Makowicz
TEMPO Interaktif, Jakarta - Rabu malam lalu, dalam menyambut 200 tahun Frederic Chopin digelar konser musik klasik bertajuk “Bicentennial Chopin” di Gedung Kesenian Jakarta. Tiga pianis – Adam Makowicz (Polandia), Dana Ciocarlie (Prancis), dan Ary Sutedja (Indonesia) – serta cellois Asep Hidayat (Indonesia) tampil membawakan serangkaian karya Chopin.
Pianis asal Polandia Adam Makowicz menjadi bintangnya malam itu. Seluruh karya Chopin yang dibawakannya digubah menjadi komposisi jazz. Tanpa partitur, Makowicz dengan liar mengacak-acak seluruh not yang semestinya tertata dengan baik.
Boleh dibilang, langkah Makowicz adalah sebuah pencapaian yang luar biasa ketika menggubah musik klasik menjadi susunan yang sangat bebas. Soalnya, karakter klasik sangat berbeda dengan jazz. Belum tandas audiens mencerna tema lagu, Makowicz sudah buru-buru mengurainya dalam bentuk baru.
Berikut petikan wawancara Tempo dengan Makowicz:
Anda piawai dalam Jazz dan klasik. Karya komponis Chopin banyak Anda mainkan....
Saya sangat dekat dengan karya-karya Chopin. Hampir 24 jam ketika saya kecil, orang tua saya memperdengarkan lagu itu. Radio-radio banyak menyiarkannya. Telinga saya menjadi sangat akrab. Chopin adalah pianis yang hebat. Komposisinya sangat indah. Seperti ada personal feeling dengan karya-karya itu. Saya sangat mengaguminya.
Anda menginterpretasikan karya Chopin menjadi jazz?
Saya senang melakukannya. Itu sebuah tantangan. Saya melatih diri sendiri untuk mengekspresikan itu. Pekerjaan saya memang meng-improve musik.
Tak hanya Chopin, komposisi Bach juga pernah digubah menjadi jazz. Secara teknik, apakah repertoar Chopin memang sangat memungkinkan untuk digubah?
Proses menggubah semacam ini sangat wajar di Eropa. Semua musisi bisa melakukannya. Saya pikir Chopin lebih populer. Tekstur nadanya tidak serumit Bach. Jazz dan klasik memiliki pola yang sangat berbeda. Ketukan nada harus selalu dijaga. Gubahan yang baik, hubungan antara kedua karakter itu harus tercipta.
Musik yang baik pasti membutuhkan cetak biru. Tapi di jazz, setiap musisi membutuhkan keharmonisan otak dan jiwa untuk menggubahnya. Perasaan personal dan ekspresi musisi bagaimanapun caranya harus memiliki relasi dengan audiens. Dari situlah maka tercipta garapan yang bagus.
Jadi repertoar yang Anda mainkan di Gedung Kesenian Jakarta itu milik Anda atau Chopin?
Anda yang menilainya.
Ismi Wahid