foto

Lukisan karya Frida Kahlo



Menafsir Ulang Frida Kahlo  

TEMPO Interaktif, Suatu kali kurator Hendro Wiyanto menulis dalam katalognya. Bunyinya kira-kira begini: “Apakah ini bukan 'membunuh' Frida sekali lagi? Ada juga yang bertanya demikian. Tidakkah ini menegaskan suatu absurditas baru? Atau sebuah penghormatan terhadap absurditas dan kecelakaan, setelah Frida tak henti dicederai oleh hidup dan kemudian... Diego?"

Potongan paragraf yang dicuplik dari katalog Membaca Frida Kahlo dan ditulis ulang oleh Puthut E.A. itu seolah menjadi sebuah gugatan. Setidaknya gugatan untuk mengingat kembali nama seorang pelukis terkenal asal Meksiko, Frida Kahlo (1907-1954). Betapa luar biasa kisah hidup dan karyanya sehingga menjadi semacam ikon dan mitos. Bahkan Frida sudah jauh melampaui lingkungan seni rupa.

Mengulang penafsiran atas Frida di tempat yang sama, Nadi Gallery, Jakarta, kembali mengadakan perhelatan itu. Bertajuk Membaca Frida Kahlo #2, pameran tunggal oleh pelukis Kadafi Gandi Kusuma ini diselenggarakan hingga 17 Maret nanti. Ia tak sekadar menguliti biografi, karya lukis, atau tubuh Frida, tapi menafsir segala hal tentang sosok yang terlahir bernama Magdalena Carmen Frida Kahlo y Calderón itu.

Frida lahir pada 6 Juli 1907. Saat berusia 7 tahun, ia menderita polio. Lalu, menginjak remaja, sebuah kecelakaan besar menimpanya, sehingga Frida memutuskan berkarier penuh menjadi pelukis dan meninggalkan studi kesehatannya. Pilihannya itu pula yang mempertemukannya dengan pelukis mural besar, Diego Rivera, yang kemudian menjadi suaminya. Sayang, kehidupan rumah tangganya juga berakhir tragis karena kasus affair. Plus keduanya sama-sama sangat temperamental.

Membaca Frida Kahlo #2 adalah upaya Kadafi menafsir ulang segala hal tentang Frida. Dafi, begitu panggilan akrab sang pelukis, menganvaskan Frida juga dengan cara yang tak lazim. Ia cukup memakai satu macam kuas besar untuk melukis setiap karyanya. Butuh kerja keras untuk mencipta lukisan realis yang dipenuhi dengan unsur detail. Efek goresan dari kuas berukuran besar itulah yang diinginkan Dafi. Tak hanya mempertaruhkan keterampilan, tapi juga efek kejutan yang ditunggu.

Terdapat 16 lukisan tafsir atas Frida. Semuanya ia salin dari foto-foto hitam-putih. "Aku ingin menyentuh Frida dengan gaya Sargent," kata Dafi, seperti dikutip katalog pameran. John Singer Sargent (1856-1925) adalah seorang pelukis potret yang sangat dikagumi Dafi. Ia terpukau oleh gaya lukis Sargent. "Sekalipun realis, tampak guratan-guratan spontan dan agak kasar," ujarnya.

Lihat tafsir Dafi pada lukisan Frida #6. Seekor rusa jantan dengan tanduknya yang bercabang menjulang. Wajahnya bukan lagi rusa, tapi Frida. Ia seperti menangkap sosok kejantanan Frida.

Atau lihat lukisan Frida #5. Perempuan itu tergambar dengan warna berbeda dibanding orang-orang lain dalam posisi berfoto bersama. Frida dengan gayanya yang sungguh maskulin, tampang dan pandangan matanya sangat dingin. Bandingkan saja dengan lukisan Dafi berjudul Frida #7 yang sangat feminin dengan gaun panjangnya.

Lain halnya ketika Dafi menggambarkan kemesraan Frida dengan Diego pada lukisan Frida #13. Kedua tangannya menggamit leher Diego dengan manja. Sebuah ironi yang tragis ketika mengetahui kisah kehidupan perkawinannya. Frida mencintai laki-laki ataupun perempuan. Diego berselingkuh dengan Cristina, adik perempuan Frida.

Terlepas dari tafsir Dafi atas Frida, ia sangat menikmati proses melukis. Yang sangat dinikmatinya adalah saat memilih warna apa yang menjadi dasar setiap lukisan, melakukan subversi terhadap obyek foto, dan menjelang akhir lukisan.

Dafi mengeksekusi kanvas dengan warna dominan tertentu, seperti hijau, merah, atau kuning, sedangkan obyek lukisnya adalah hitam-putih. Menjelang akhir adalah tantangan yang besar bagi Dafi. “Sebab, aku harus bertarung dengan diriku sendiri, kapan sebaiknya lukisan ini diakhiri. Kalau tidak, rasanya ingin terus menggores di kanvas itu,” katanya.

Ismi Wahid