Topik


Pasca Gempa, Sumbar Gelar Pameran Kuliner di Kuala Lumpur

TEMPO Interaktif, Kuala Lumpur - Lima bulan pasca-gempa yang mengguncang Kota Padang dan beberapa daerah lainnya, Pemda Sumatera Barat mengadakan promosi wisata di Kuala Lumpur, Malaysia. Dalam acara Minangkabau Food Festival and Promotion for Tour De Singkarak yang digelar di Seri Pacific Hotel Kuala Lumpur tersebut, disuguhkan pelbagai makanan khas dari 15 kabupaten/kota di Sumatera Barat.

Selain diisi dengan pameran masakan Padang, kegiatan yang digelar dari 12-14 Maret ini juga dimaksudkan untuk promo balap sepeda Tour De Singkarak yang akan digelar untuk kedua kalinya, pada tahun ini. “Kami ingin mempromosikan balap sepeda terbesar di Indonesia, dengan 25 negara peserta,” ungkap James Hellyward, Ketua Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Sumatera Barat.

Minangkabau Food Festival and Promotion for Tour De Singkarak juga dimaksudkan untuk menjaring lebih banyak wisatawan Malaysia untuk berkunjung ke Sumatera Barat. “Hampir 60 persen wisatawan mancanegara kita dari Malaysia, dan kami berharap jumlah itu akan meningkat,” harap James Hellyward.

Selain dihadiri beberapa bupati dan wali kota asal Sumatera Barat, kegiatan tersebut juga dihadiri Dirjen Pemasaran Depbudpar, Sapta Nirwandar, Duta Besar Indonesia untuk Malaysia Da’i Bachtiar, dan Menteri Penerangan, Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia, Rais Yatim.

Dalam kesempatan tersebut, Rais Yatim, yang fasih berbahasa Minang, tidak sungkan-sungkan berpantun dan menari bersama. Karenanaya, menteri yang beberapa kali datang ke Padang saat terjadi gempa akhir September lalu, menyambut baik diselenggarakannya pameran kuliner tersebut. “Ini adalah salah satu upaya untuk lebih merapatkan lagi hubungan Indonesia-Malaysia” kata Rais Yatim.

Selain budaya dan makanan, Rais berharap Indonesia dan Malaysia juga bekerja sama untuk menjadikan bahasa Indonesia dan bahasa Melayu diakui dunia. “Bahasa Indonesia dan bahasa Melayu Malaysia ibarat English UK dan English Amerika,” kata Rais mengibaratkan. “Kita berharap agar bahasa ini bisa menjadi bahasa nomor lima di dunia.”

Masrur (Kuala Lumpur)