Adam Wakowicz dalam Bicentennial Chopin Classical Music Concert di Gedung Kesenian Jakarta, Jakarta. (TEMPO/Novi Kartika)
Topik
Chopin Rasa Jazz
TEMPO Interaktif, Jakarta - Dua abad silam, seorang remaja berbakat asal Polandia memukau audiens lewat permainan pianonya. Pria 19 tahun itu dengan sangat gemilang menggubah sebuah repertoar klasik. Dalam usianya yang masih belia ia telah membuat variasi La Ci darem la Mano Opus 2 milik komponis besar Wolfgang Amadeus Mozart. Bahkan seorang komponis Jerman, Robert Schumann, mengatakan remaja itu sebagai komponis jenius pada masanya.
Dialah Frederic Chopin. Komponis kelahiran Warsawa, Polandia, 1 Maret 1810, itu memiliki bakat alam yang luar biasa dalam memainkan piano. Bakat itu diperlihatkannya dalam improvisasi dan penciptaan dalam irama nasional, seperti mazurka dan polonaise. Chopin masih berusia tujuh tahun tatkala salah satu dari polonaise-nya diterbitkan.
Dan Rabu malam lalu, sebuah perhelatan besar bertajuk “Bicentennial Chopin” digelar di Gedung Kesenian Jakarta. Acara menyambut hari kelahiran Chopin yang ke-200 itu menghadirkan tiga pianis dari Prancis, Polandia, dan Indonesia serta satu celloist. Mereka--Adam Makowicz (Polandia), Dana Ciocarlie (Prancis), Ary Sutedja (Indonesia), dan celloist Asep Hidayat (Indonesia)--mempertunjukkan serentetan komposisi Chopin.
Meski hanya repertoar piano, ada warna lain yang disuguhkan malam itu. Adam Makowicz--yang menjadi bintangnya malam itu--dengan sangat mengejutkan menggubah seluruh repertoar Chopin menjadi warna jazz.
Mulanya Prelude No. 3 Opus 28 itu dimainkan sesuai dengan partitur. Tak sampai selesai satu frasa, kalimat berikutnya menjadi berloncatan ke sana-kemari. Sebuah komposisi improvisasi kemudian mengalir. Meski notasinya berubah, tema lagu masih tampak jelas terlihat. Nada-nada rendah menjadi kemudi di antara notasi melodi yang kian bebas diekspresikan Makowicz.
Berkali-kali Makowicz mengatakan kalimat yang sama sebelum memulai repertoarnya. "Saya memperkenalkan lagu ini pada Anda," ujar Makowicz kepada penonton. Tentu perkataannya tampak aneh jika seluruh karya itu ia mainkan sesuai dengan partitur aslinya. Tapi ini tidak. Bahkan Makowicz sangat berani hanya memunculkan tiga hingga empat birama pembuka untuk dimainkan sesuai dengan partitur. Selebihnya, ia acak-acak susunan nada itu.
Belum tandas mendengar kalimat pembuka Nocture No. 1 Opus 15, Makowicz dengan cepat mengubahnya. Pada bagian tertentu, pola kontrapung tak lepas dari incaran improvisasinya. Ia mainkan dengan cepat dan kental dengan aroma swing.
Repertoar akhir Mazurka No. 4 Opus 17 ia mainkan dengan sangat menakjubkan. Dengan tempo cepat, Makowicz membawakannya tanpa awalan. Seluruh repertoar ia interpretasikan dalam jazz. Jika tak terbiasa mendengarkan lagu aslinya, boleh dibilang roh klasik hampir tak tampak.
Makowicz sangat piawai dalam memainkan jazz. Pada usia 15 tahun, ia mulai tertarik pada jenis musik ini. Saat era komunis di Polandia, jazz adalah musik yang tabu dan terlarang karena produk Barat. Tapi Makowicz merasa tertantang karena genre inilah yang mengantarnya menuju kebebasan dan improvisasi.
Tak hanya jazz, ia juga mendalami musik klasik, terutama karya Chopin. Sejak kecil ia selalu mendengar karya-karya komponis Polandia tersebut. Komposisi-komposisi Chopin kemudian ia interpretasikan dalam jazz. Ini seperti halnya men-swing-kan karya J.S. Bach oleh beberapa musisi di Jerman pada 2000. Saat itu Bobby McFerrin menggubah lagu Ave Maria versi Gounod dan Bach dengan teknik vocalizing yang penuh appregio. “Karya Bach lebih susah di-improve dibandingkan dengan Chopin,” kata Makowicz.
Di era karier musik Chopin, karya sejumlah komponis masih mengikuti aturan dalam gaya klasik, yang mengharuskan tempo permainan tangan kiri sama persis dengan tangan kanan. Tapi gaya komposisi Chopin justru tak mengikuti kaidah itu. Barangkali celah itulah yang memudahkan Makowicz menafsirkannya menjadi jazz.
Lain halnya dengan pianis Prancis, Dana Ciocarlie. Malam itu ia memainkan karya Chopin tanpa improvisasi apa pun. Repertoar yang ia bawakan adalah 5 Valses, Polonaise No. 7 in B bes Major Opus 61, 3 Mazurkas Opus 59, dan Rondeau a la Mazur en fa majeur Opus 5. Adapun pianis Indonesia, Ary Sutedja, berduet dengan celloist Asep Hidayat memainkan Sonata for Cello Piano in G Minor Opus 65 dalam empat bagian.
ISMI WAHID