Foto jenazah yang diduga Dulmatin setelah tertembak.
Topik
Infografis
Pengamat Ragukan Perintah Eksekusi Dulmatin
TEMPO Interaktif, Jakarta - Pengamat terorisme Mardigu Wowiek Prasantyo meragukan isi surat elektronik Dulmatin berisi perintah "eksekusi." Surat itu tak sempat dikirimkan Dulmatin. Dia akhirnya meregang nyawa dalam penggerebekan di Pamulang, Tangerang, pekan lalu. "Surat itu belum terkirim, jadi tak bisa ditebak tertuju kepada siapa. Meragukan," katanya ketika dihubungi Tempo/
Mardigu belum bisa menarik kesimpulan atas surat tersebut. Dia menilai, surat itu tak menunjukan maksud dan tujuan secara eksplisit. " "Email itu mengandung makna ganda, seandainya Polisi menembak satu jam kedepan, kemungkinannya bisa berubah," katanya.
Kematian Joko Pitono alias Dulmatin pada Selasa lalu di sebuah bilik sempit warung internet Multiplus di Pamulang Banten menimbulkan teka-teki. Sumber Tempo membisikan, sebelum meninggal, teroris yang dibanderol Amerika Serikat senilai US$ 10 juta atau setara Rp 100 miliar itu, akan mengirimkan pesan elektronik yang memerintahkan 'eksekusi'.
Dia melanjutkan, surat itu jangan sampai menjadi polemik bagi Kepolisian. Ia menyarankan Polisi tetap fokus memburu anggota jaringan terorisme di wilayah Indonesia. "Tanpa menghiraukan bukti (eksekusi) yang belum tentu mengarah ke sasaran jelas," ujarnya.
APRIARTO MUKTIADI
Web via