Topik
Klenteng se-Jawa dan Bali Meriahkan Kirab Tolak Bala Nasional
TEMPO Interaktif, Jakarta - Kirab tolak bala (cie saw) nasional memperingati ulang tahun Klenteng Hoo Tong Bio ke-226, berlangsung meriah. Sebanyak 20 peserta dari klenteng se-Jawa dan Bali berpartisipasi memeriahkan acara.
Kirab diberangkatkan oleh Bupati Banyuwangi Ratna Ani Lestari dari Klenteng Hoo Tong Bio, Kelurahan Karangrejo, Banyuwangi, Jawa Timur, pada sekitar pukul 10.00 WIB. Sebelum berangkat, panitia menampilkan atraksi naga doreng dari Batalyon Artileri Pertahanan Udara Sementara 15 Kodam IV/Diponegoro.
Kirab mengelilingi jalanan protokol, mulai Jalan Wahid Hasyim, Sudirman, Kartini, dan berakhir di Klenteng Hoo Tong Bio. Masing-masing peserta membawa kim sin atau para dewa dan berbagai kesenian khas Tionghoa, seperti barongsai, leang-leong, serta naga doreng. Kirab juga diramaikan dengan Reog Ponorogo dan kuntulan dari Banyuwangi.
Ketua Tempat Ibadah Tri Dharma Hoo Tong Bio Bambang Witarsa mengatakan, kirab tersebut diselenggarakan untuk memperingati ulang tahun Hoo Tong Bio ke-226 sekaligus mendoakan supaya Indonesia terlepas dari segala petaka dan bencana. "Semoga masyarakat semakin sejahtera," katanya.
Klenteng Ho Tong Bio (Kuil Perlindungan Orang China) didirikan pada 1784 dan dianggap sebagai Klenteng tertua di Jawa. Klenteng tersebut dipersembahkan untuk leluhur mereka, Kongco Tan Hua Chin Jin
Penelitian yang dilakukan Claudine Salmon dan Myra Sidharta menjelaskan, Kongco adalah juragan perahu sloop pertama yang berlayar bersama kedua adik lelakinya dari Batavia menuju Bali. Setelah perahu tenggelam, pada sekitar 1729, Tan Hua Cin Jin pergi ke Kerajaan Blambangan. Ia kemudian menjadi tukang yang diminta membangun istana di Macanputih dan Mengwi, Bali. Kongco dikenang sebagai leluhur yang sakti dan suka menolong sesama.
Klenteng Ho Tong Bio memiliki cabang di sembilan kota/kabupaten lain Rogojampi (Banyuwangi), Besuki (Situbondo), Probolinggo, Jembrana, Buleleng, Kuta, Tabanan, dan Ampenan (Nusa Tenggara Barat).
Dalam sambutannya, Bupati Banyuwangi Ratna Ani Lestari berharap masyarakat tak lagi membedakan warna kulit, status ekonomi, dan status sosial. Sebaliknya, dengan berbagai perbedaan tersebut menjadi semangat pemersatu untuk memajukan Banyuwangi. "Kita harus bersatu, " ujarnya.
Ika Ningtyas