REUTERS
Topik
Kejutan Besar Sang Rubah Gurun
TEMPO Interaktif, Aljazair - Sembari duduk di atas mistar gawang, Faozi Chaochi melepas bajunya, berteriak-teriak gembira dan mengibarkan bendera Aljazair yang digenggamnya. Kiper tim nasional berusia 25 tahun itu bersama puluhan pemain dan ofisial Aljazair lainnya melepas kegembiraan setelah mengalahkan Mesir 1-0 lewat pertandingan ketat di babak playoff Piala Dunia 2010, November tahun lalu. Aljazair akhirnya lolos ke Afrika Selatan dan itulah hadiah besar dari sebuah penantian selama 24 tahun.
Kemenangan besar. Itulah yang dirasakan para pemain Aljazair ketika gol tunggal pemain belakang, Antar Yahia, mengakhiri mimpi Mesir untuk tampil di Piala Dunia. Ditambah lagi, konflik politik yang melibatkan kedua negara itu selalu membayangi pertemuan mereka di lapangan hijau. Kali ini Aljazair bisa berjalan keluar lapangan dengan kepala tegak dan tertawa karena mereka sudah menggenggam tiket tampil di Piala Dunia.
Racikan pelatih Rabah Saadane terbukti ampuh dalam menyatukan para pemain senior dan anak-anak muda dalam tim Aljazair. “Apa yang kami lakukan dalam kualifikasi itu sudah mengembalikan negeri ini ke dalam peta Piala Dunia. Itu adalah sebuah kebanggaan besar dan saya suka melihat kami berhasil memberikan kegembiraan untuk rakyat Aljazair. Ini adalah sesuatu yang sangat baik untuk para anak muda itu,” kata Saadane.
Meski kalah mengkilap ketimbang Mesir yang akhirnya jadi juara Piala Afrika 2010, Februari lalu, Aljazair masih punya kebanggaan akan tampil di putaran Piala Dunia untuk ketiga kalinya. Aljazair punya kenangan manis saat pertama kalinya berhasil ikut Piala Dunia di Spanyol pada 1982. Saat itu mereka mempecundangi Jerman Barat (yang akhirnya menjadi runner up) dan Chile di babak grup. Sayangnya, mereka tak lolos ke putaran berikutnya. Pada Piala Dunia 1986 di Meksiko, mereka juga gagal keluar dari babak grup.
Setelah itu, Le Fennecs (Pasukan Rubah Gurun) --julukan Aljazair-- tak pernah lagi lolos ke putaran final. Prestasi terakhir negeri ini adalah memenangi Piala Afrika 1990. Perang saudara antara pasukan pemerintah melawan pejuang Islam yang terjadi pada kurun 1992-2002 secara tak langsung berimbas ke mandegnya prestasi sepak bola Aljazair. Tak kurang dari 160 ribu orang tewas dalam perang itu. Bila bertanding atau mengadakan pemusatan latihan, tim nasional memilih mengungsi ke Annaba yang berjarak 500 kilometer dari Ibukota Algiers.
Meski kerap dilanda masalah politik, Aljazair masih dipandang sebagai “gudang”-nya pemain-pemain berbakat. Bakat-bakat besar itu mengalir ke Prancis yang tim nasionalnya banyak menggunakan pemain keturunan warga Aljazair. Ini bisa terjadi karena Aljazair pernah menjadi jajahan Prancis hingga akhirnya merdeka pada 1962. Namun pengaruh Aljazair tak bisa hilang begitu saja di tim nasional Prancis. Legenda sepak bola Prancis, Zinedine Zidane, bahkan bintang Real Madrid yang juga striker tim nasional tim nasional Prancis, Karim Benzema, merupakan pemain keturunan Aljazair.
Namun banyak pula pemain nasional Aljazair yang lahir di Prancis ternyata lebih memilih membela negeri leluhurnya. Loyalitas “pemain-pemain Prancis” ini adalah sebuah keuntungan besar bagi Aljazair. Salah satu pemain yang memilih pulang kampung adalah Mourad Meghni, yang pernah menjadi playmaker tim nasional Prancis saat menjuarai Piala Dunia U-17 dan andalan utama di tim U-21. "Saya bangga mengenakan seragam hijau-putih (Aljazair)," kata gelandang yang tampil di Seri A Italia bersama Lazio ini.
Di bawah asuhan Saadane, Aljazair kembali membuat sejarah dengan lolos ke Piala Dunia lagi. Saadane adalah sosok yang unik dalam perkembangan sepak bola Aljazair. Sejak memproklamasikan kemerdekaan dari Prancis, tim nasional Aljazair mengalami 32 kali pergantian pelatih: setiap 1,5 tahun ganti orang. Saadane adalah pelatih pribumi yang paling dihormati di antara serangkaian pergantian pelatih yang berasal dari Prancis. Saadane telah lima kali ini menangani Aljazair: 1981-1982, 1985-1986, 1999, 2003-2004, dan 2007 sampai sekarang.
Saadane sukses membuat kejutan pada Piala Dunia 1982 tapi gagal di Meksiko pada 1986. Kini di Afrika Selatan nanti dia punya peluang untuk membikin gebrakan
bersama "pemain-pemain Prancis”-nya. Meski berada di grup C yang tergolong sulit karena bersaing bersama Inggris, Amerika Serikat dan Slovenia, Saadane sangat yakin akan kemampuan Aljazair.
“Tentu saja ada tiga tim bagus lainnya di grup itu, tapi tujuan utama para pemain muda kami adalah lolos Piala Dunia. Kini hal itu sudah mereka terima dan tidak ada lagi tekanan yang datang. Kami akan mengerahkan semua kemampuan yang kami miliki untuk menikmati Piala Dunia ini,” kata Saadane.
GABRIEL WAHYU TITIYOGA (FIFA, GOAL, TIMESONLINE)