foto

Peresmian Pertunjukan Multimedia Light Show dan Launching "Jakarta Punya", di Musium Fatilah, Jakarta, Sabtu (13/3). (TEMPO/Aditya Noviansyah)



Perjalanan Jakarta dalam Film Tiga Dimensi  

TEMPO Interaktif, Jakarta - Ada yang berbeda di Museum Fatahillah di kawasan Kota Tua Jakarta pada malam Minggu lalu. Sebuah pertunjukkan spektakuler video mapping 3D digelar di museum tersebut. Ribuan warga Jakarta dan sekitarnya menyaksikan pertunjukkan yang merupakan kolaborasi seniman multimedia D-Fuse dari Inggris dengan sineas muda Adi Panuntun dan Sakti Parantean, fotografer Feri Latief, serta penulis Taqarrable.

 

Video mapping 3D adalah sebuah pertunjukkan gambar bergerak, fotografi, dan desain komputer yang digabungkan lalu dipoyeksikan ke layar. Malam itu, yang menjadi layarnya bukan kain putih lebar seperti biasanya, melainkan tembok bagian depan Museum Fatahillah. Hasilnya, sebuah tontonan yang berhasil menghipnotis penonton yang seolah dilempar ke Jakarta di masa lampau, menyaksikan perjalanan Jakarta dari sebelum zaman kolonial hingga menjadi kota metropolitan.

 

Di layar tersaji kota Jakarta yang dulunya berupa hutan rawa, sebelum VOC dan Jan Pieter Zoon Coen merebutnya menjadi pusat pemerintahan Hindia-Belanda. Tiga proyektor 3D yang di sisi kanan-tengah-kiri memunculkan gambar pohon yang tumbuh. Ilustrasi itu pun kian meyakinkan dengan iringan latar suara kicauan burung yang terprogram dari suara digital.

 

Lalu, kumpulan foto-foto tempo dulu diputar bergerak, seperti menyaksikan pemandangan kota dari kaca mobil. Gambar-gambar menampilkan potret Jakarta yang mengalami masa peralihan. Pernah dijajah, lalu pergerakan sejarah dengan munculnya tokoh-tokoh yang membangun Jakarta, dan akhirnya modern.

 

Setelah itu, muncul video yang memutar para anak muda yang berkreatifitas dengan graffiti batik yang menyelimuti seluruh tembok gedung. Batik yang menjadi kebanggaan itu hadir dalam wujud tiga dimensi. Sebuah ilusi yang menyelimuti Museum Fatahillah dengan ragam batik nusantara.

 

Menurut Adi Panuntun, kerja sama lintas benua ini terjadi lewat jaringan Internet. Untuk proses pertama, gedung ini dipetakan dulu. Lalu, sebuah jalan cerita dirangkai dan menyampaikannya lewat medium video dan fotografi. "Semua bahan itu lalu dikirim lewat Internet ke D-Fuse di London, Inggris, untuk dibuatkan video grafis dan musiknya,” ujar Adi. Setelah selesai, konsep ini kemudian harus dijajal berulang kali untuk mendapatkan kesesuaian video dengan bentuk bangunan gedung yang menjadi layar proyeksi itu nanti.

 

Direktur Tata Suara D-Fuse Mathias Kispert menyatakan, ini sebenarnya proyek yang sederhana. Teknologi yang baru tiga tahun lalu dibuat di Inggris tersebut punya cara kerja yang sama seperti membuat sket untuk proyektor film. "Bedanya, layarnya bukan kain putih, melainkan tembok gedung yang ada pintu dan jendelanya,” katanya.

 

Pemerintah DKI Jakarta punya misi dengan hajatan kreatif bertajuk “Kota Kreatif Jakarta Punya” tersebut. “Acara ini adalah ajang promosi Kota Tua sebagai arena rekreasi bagi warga Jakarta," ujar Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo.

 

Selain itu, para penggagas acara hasil kerja sama Pemerintah Kota DKI, Kamar Dagang dan Industri Jakarta, dan British Council tersebut ingin menjadikannya sebagai sebuah revitalisasi kawasan Kota Tua dengan menjadikannya sebagai ruang bermain yang kreatif.

 

 

Aguslia Hidayah