Richard Strauss, salah satu tokoh di era musik romantis.
Topik
Musik Romantik: Era Musik Genit di Eropa
TEMPO Interaktif, Jakarta - Saban Sabtu sore sepanjang Maret ini, Komunitas Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, mengadakan kuliah umum yang membahas tentang musik klasik hingga kontemporer. Materi kuliah disampaikan oleh pengamat musik Suka Hardjana. Pada pekan kedua, materi yang disampaikan bertajuk Musik Klasik dan Romantik, serta Impresionisme.
Berikut rangkuman materi bagian kedua.
***
Sesungguhnya, Romantik tak secara langsung berhubungan dengan kata romantisme. Artinya, dalam sejarah musik di Eropa tak semua musik pada era Romantik itu romantis. Pun, tak semua hal romantis serta merta disebut musik romantik.
Misalnya, pada 1950-an di Indonesia, musik seriosa yang hidup pada zaman itu seperti karya Ismail Marzuki, FX Soetopo, Mochtar Embut, dan lainnya bernuansa romantis. Tapi itu tak bisa disebut musik Romantik. Begitu pula dengan musik Romantik, tak serta merta disebut musik roman (musik yang mencitrakan cinta kasih), meski prosa musik Romantik (opera) pada saat itu banyak yang bercerita tentang cinta.
Romantik dalam musik sering dikaitkan dengan romansa atau romance. Bahkan kata ini sudah digunakan pada beberapa judul karya komponis sebelum era ini. "Romance" misalnya, sudah digunakan oleh Beethoven untuk dua karya violin dan orkes. Sebelumnya, Mozart dalam karyanya piano dan orkes D minor KV 466 telah diberi judul "Romanze".
Sebetulnya, Romantik lebih dekat dengan romantisisme. Kata ini berarti sebuah sikap yang menggelorakan semua gejolak kebebasan jiwa yang ada dalam ranah pikir dan insting manusia. Romantisismus adalah kehendak untuk menembus batas kemungkinan dalam ranah seni, filsafat maupun ilmu pengetahuan. faham inilah yang menjadi penanda episode musik abad 19 di Eropa yaitu Romantik.
Musik Romantik bukanlah satu-satunya genre musik pada abad itu. Banyak aliran seperti ekspresionisme, impresionisme, neoklasisme, dodekaphoni, dan sebagainya. Musik Romantik hanya menjadi penanda arus utama (mainstream). Tak lain karena pendekatan gaya dan ciri karakteristiknya yang menonjol.
Tak ada kesepakatan yang pasti atas rentang waktu dimulainya era musik Romantik. Ada yang menentukan era Romantik berawal dari terciptanya opera Der Freischutz karya Carl Maria von Weber pada 1820 dan berakhir pada 1920 ketika Arnold Schoberg menemukan prinsip baru dalam konsep Musik Duabelas Nada di Wina, Austria.
Namun, sejarawan lain menarik mundur awal era Romantik pada saat kelahiran komponis Klasik-Romantik, Ludwig van Beethoven pada 1770. Dan berakhir hingga 1900, yakni batas antara abad 19 dan 20. “Batasan-batasan waktu dalam sejarah seni memang selalu tumpang tindih,” kata Suka Hardjana.
Perubahan karakteristik sejarah seni pada abad 18 dan 19 sangat dipengaruhi oleh berkecamuknya revolusi di berbagai negara Eropa. Revolusi Inggris pada 1750, Revolusi Kemerdekaan di Amerika Utara pada 1775, Revolusi Sosial di Prancis pada 1789 membawa pengaruh yang sangat besar pada perkembangan seni di Eropa.
Perubahan besar-besaran itu menginspirasi pandangan manusia terhadap karya seni sebagai subyek yang berdaulat. Kebebasan yang hampir tanpa batas ini menghasilkan karya yang sangat dahsyat dalam wacana karakteristik musik Romantik abad 19. Karya seni tak lagi dipandang sebagai objek. "Musik adalah bentuk ungkapan ekspresi yang paling langsung dan alami dari semua bentuk pernyataan karya seni," kata Arthur Schopenhauer (1788-1860).
Musik menjadi bukan hanya bersifat individual tetapi juga sangat personal. Norma-norma diacu bersama, tapi aplikasinya tergantung pada hak kebebasan pribadi. Subyektivitas menjadi ideologi seni baru pada era Romantik.
Elemen-elemen non musik seperti seni sastra, bangunan, khayalan, mitos, alam menjadi sumber inspirasi. Lebih ekstrem lagi, lamunan-lamunan yang menembus batas transendental juga menjadi bahan awal komposisi. Seperti kata Nietsche (1844-1900), "Tuhan sudah mati. Tanpa musik hidup adalah kesia-siaan."
Lamunan tanpa batas itulah yang membuat banyak seniman Romantik mengidap halusinasi yang lunatik. Gejala sakit jiwa ini yang membikin mereka mati muda, seperti Weber, Schubert, Mendelssohn, Schuman, maupun Chopin.
Di sinilah problem terbesar ketika menyimak musik Romantik. Konstruksi musiknya berbelit-belit, penuh makna dan sangat kompleks. Kegenitan, ekspresi yang meluap-luap pada karakter musik Romantik menuntut pengertian.
Ismi Wahid